Select Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
use your language

Kamis, 27 September 2012

Konsep-Konsep Dasar Modifikasi Perilaku


A.    REINFORCEMENT

Pengertian
Adalah proses dimana tingkah laku diperkuat oleh konsekuensi yang segera mengikuti tingkah laku tersebut. Saat sebuah tingkah laku mengalami penguatan maka tingkah laku tersebut akan cenderung untuk muncul kembali pada masa mendatang.
Reinforcement dapat didefinisikan sebagai:
1.      Kejadian perilaku tertentu
2.      Diikuti oleh akibat yang segera mengikutinya
3.      Hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut.

Contoh :
                        Pada percobaan yang dilakukan oleh Thorndike (tahun 1911), Ia meletakkan seekor kucing yang lapar pada sebuah kandang. Di sisi luar kandang yang dapat dilihat oleh kucing, Thorndike meletakkan makanan. Pintu kandang akan terbuka jika kucing memukul tuas yang ada pada pintu. Pintu tidak akan terbuka kecuali kucing dapat memukul tuas tersebut. Setelah melakukan beberapa gerakan, akhirnya kucing dapat memukul tuas tersebut dan akhirnya pintu terbuka sehingga kucing tersebut dapat mengambil makanan tersebut. Perlakuan yang sama dilakukan pada waktu yang berbeda dan ternyata kucing dengan segera mampu membuka pintu kandang dengan memukul tuas yang ada.
Pada contoh ini, kucing tersebut akan cenderung untuk memukul tuas saat ini dimasukkan kedalam kandang, karena tingkah laku tersebuat segera menghasilkan akibat terbukanya pintu dan kucing dapat mengambil makanan yang ada. Mengambil makanan (pada kucing yang lapar tersebut) merupakan konsekuensi yang reinforced (memperkuat) tingkah laku kucing memukul tuas yang ada.

Jenis-Jenis Reinforcement
Reinforcement dibagi menjadi dua, reinforcement positif dan reinforcement negatif. reinforcement positif dan negatif adalah proses yang memperkuat perilaku yaitu, mereka meningkatkan probabilitas bahwa perilaku tersebut akan terjadi di masa depan. Penguatan positif dan negatif dibedakan oleh sifat konsekuensi yang mengikuti perilaku.
-          Reinforcement positif
Penguatan positif didefinisikan sebagai berikut.
Terjadinya perilaku diikuti dengan penambahan stimulus (penguat) atau peningkatan intensitas stimulus, yang menghasilkan penguatan perilaku. Bentuk-bentuk reinforcement positif dapat berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
-          Reinforcement Negatif
Terjadinya perilaku diikuti dengan penghapusan stimulus (stimulus aversif) atau penurunan intensitas stimulus, yang menghasilkan penguatan perilaku. Bentuk-bentuk reinforcement negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

Faktor - faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Reinforcement

1.      Immediacy/Kesegeraan
Waktu antara munculnya perilaku dan konsekuensi yang menguatkan adalah faktor yang penting. Untuk konsekuensi yang lebih efektif, konsekuensi tersebut harus diberikan segera setelah munculnya tingkah laku. Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah bila kita mengutarakan sebuah lelucon kepada teman kita dan dengan segera teman kita tertawa karenanya, maka kita cenderung akan kembali mengutarakan lelucon tersebut di kemudian hari. Namun jika setelah kita mengutarakan lelucon tersebut ternyata teman kita terlambat tertawa, maka kita akan cenderung untuk tidak mengulangi mengutarakan lelucon tersebut.
2.      Contingency
Ketika respon secara konsisten diikuti oleh konsekuensi yang segera, konsekuensi tersebut akan lebih efektif untuk menguatkan (reinforce) respon tersebut. Saat respon tersebut menghasilkan konsekuensi dan konsekuensi tersebut tidak muncul kecuali respon tersebut hadir terlebih dahulu, kita katakan bahwa contingency hadir diantara respon dan konsekuensi. Contohnya saat kita menekan tombol starter pada motor kita dan dengan segera motor tersebut dapat nyala, maka kita akan cenderung menyalakan mesin motor kita hanya dengan menekan tombol stater tersebut. Namun jika ternyata suatu saat tanpa menekan tombol stater motor kita dapat menyala, maka perilaku menekan tombol stater ini akan melemah. Contoh lain adalah, ibu yang berjanji pada anaknya, bahwa setiap kali anaknya berhasil mendapatkan peringkat I di kelasnya maka ia akan memberikan anaknya hadiah berlibur ke pulau Bali, hal ini dapat membuat anak menjadi rajin belajar dan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan peringkat I. Namun jika suatu saat ia diajak ibunya untuk berlibur ke pulau Bali meskipun ia tidak mendapatkan peringkat I, maka perilaku rajin belajar dan usaha keras anak bisa jadi melemah.
3.      Eshtablishing
Eshtablishing Adalah kejadian yang mengubah nilai sebuah stimulimenjadi sebuah penguat. Contoh: Saat kita dalam kondisi haus, air akan lebih bermakna dibandingkan saat kita dalam kondisi normal.
4.      Individual Differences / Perbedaan Individual
Reinforcer (penguat) akan berbeda pada setiap individu. Contoh: permen mungkin akan menjadi penguat pada anak kecil, namun (mungkin) tidak pada orang dewasa.
5.      Magnitude/Kwantitas
Dengan establishing operations yang sesuai, biasanya, efectiveness suatu stimulus sebagai reinforcer adalah lebih besar jika jumlah atau penting/besar suatu stimulus lebih besar. Contohnya: Kita akan lebih berusaha keras untuk keluar dari bangunan yang sedang terbakar dibandingkan dengan usaha kita untuk keluar dari suatu tempat yang panas terkena matahari

B.     PUNISHMENT

Pengertian
Pemberian stimulus yg mengikuti suatu perilaku mengurangi kemungkinan berulangnya perilaku tersebut. Ada tiga hal yang dapat digunakan untuk mendefenisikan punishment/ hukuman tersebut :
-          Perilaku tertentu terjadi
-          Sebuah konsekuensi segera mengikuti langkah tersebut
-          Sebai hasilnya, perilaku cenderung untuk tidak muncul kembali dimasa mendatang

Jenis-jenis Punishment

Punishment dibagi menjadi dua macam, ada punishment positif dan ada punishment negatif.
-          Punishment positif
Kejadian suatu perilaku yang diikuti penyajian stimulus yang tidak menyenangkan dan membuat tingkahlaku yang tidak diinginkan tidak muncul kembali dimasa yang akan datang.
Contoh : Pada kasus seorang anak wanita yang suka menampar dirinya sendiri. Saat wanita itu menampar dirinya sendiri, peneliti segera menerapkan/memberikan shok elektric singkat dengan menggunakan alat shok hand-held. (walaupun shok ini menyakitkan, tapi tidak membahayakan bagi wanita tersebut).
Sebagai hasilnya, perilaku menampar diri sendiri pada wanita ini pun berkurang. Kasus ini merupakan contoh penerapan positif reinforcement karena painful stimulus (stimulus yang menyakitkan) segera diberikan saat wanita itu menampar dirinya sendiri, dan tingkah laku (menampar diri sendiri) berkurang sebagai hasilnya.

-          Punishment negatif
Kejadian suatu perilaku yang diperkuat dengan penghilangan stimulus dan dan membuat tingkahlaku yang tidak diinginkan tidak muncul kembali dimasa yang akan datang.
Contoh : Pada kasus seorang anak yang suka menginterupsi (menyela/mengganggu) pekerjaan orang tuanya. Dengan menggunakan prinsip negatif punishment, maka cara untuk mengurangi/menghilangkan tingkah laku suka menginterupsi (menyela/mengganggu) ini adalah dengan menghilangkan beberapa penguat lainnya (yang disenangi anak dan tidak berkaitan langsung dengan tingkah lakunya) – seperti dengan tidak memberikan uang jajan atau larangan menonton TV – setiap kali anak melakukan interupsi (menyela/mengganggu) pekerjaan orang tua. Dengan begitu, anak akan mengurangi perilaku suka menginterupsi-nya. Kasus ini merupakan contoh penerapan negatif reinforcement karena stimulus yang memperkuat segera dihilangkan saat anak itu menginterupsi orang tuanya, dan tingkah laku (menginterupsi) berkurang sebagai hasilnya.

Faktor – faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Punishment
1.      Immediacy/Kesegeraan
Waktu antara munculnya perilaku dan konsekuensi yang menguatkan adalah faktor yang penting. Untuk konsekuensi yang lebih efektif, konsekuensi tersebut harus diberikan segera setelah munculnya tingkah laku. Contoh: saat seorang murid mengeluarkan kata-kata kasar di kelas, maka guru yang sedang mengajar segera menunjukkan wajah marah kepada anak tersebut. Perilaku guru ”menunjukkan wajah marah” pada sang murid, akan menjadi lebih efektif jika dilakukan segera pada saat anak mengeluarkan kata-kata kasar dibandingkan dengan menundanya hingga 30 menit kemudian atau beberapa menit kemudian.
2.      Contingency
Ketika respon secara konsisten diikuti oleh konsekuensi yang segera, konsekuensi tersebut akan lebih efektif untuk menghentikan respon tersebut. Punishment akan lebih efektif jika punishment tersebut dipasangkan secara konsisten.
3.      Establishing Operations
Adalah kejadian yang mengubah nilai sebuah stimulimenjadi sebuah penguat. Contoh: mengatkan kepada anak bahwa siapa yang berbuat nakal saat makan malam maka ia tidak akan mendapatkan makanan penutup (dessert), menjadi kurang efektif jika saat itu anak sudah menikmati dua atau lebih makanan penutup.
4.      Individual Differences/Perbedaan Individual dan Magnitude/Kwantitas dari Punisher.
Keefektivan pemberian punisher (penghukum) akan berbeda pada setiap individu. Keefektivan punisher juga di tentukan oleh kwantitas punisher-nya. Contoh: digigit nyamuk adalah sesuatu yang dinilai sebagai stimulus yang sedikit tidak menyenangkan untuk kebanyakan orang; perilaku memakai celana pendek di dalam hutan mungkin menjadi punishment karena nyamuk menggigit kaki, dan merindukan memakai celana panjang pada situasi ini diperkuat secara negatif (negatively reinforced) untuk menghindari gigitan nyamuk. Contoh lainnya, sebagai pembanding, adalah sakit yang sangat dirasakan akibat sengatan lebah merupakan punisment bagi kebanyakkan orang. Orang akan menghentikan perilaku yang akan mengakibatkannya disengat lebah dan meningkatkan perilaku mereka yang dapat menghindarkan mereka dari sengatan lebah. Karena disengat lebah lebih menyakitkan bila dibandingkan dengan digigit nyamuak, maka sengatan lebah menjadi lebih efektif sebagai punisher.

C.    EXTINCTION
Extinction terjadi karena reinforcement yang mempertahankan sebuah perilaku dihilangkan atau tidak lagi disediakan. Pada mulanya akan tetap muncul respon yang dipelajari,namun kemudian respon-respon ini secara bertahap akan berkurang dan pada akhirnya menghilang.

Selama perilaku diperkuat, setidaknya sesekali, maka akan terus terjadi. Jika perilaku tidak lagi diikuti dengan konsekuensi yang memperkuat,maka perilaku tidak muncul. Ketika perilaku berhenti terjadi karena tidak lagi diperkuat, dapat dikatakan bahwa perilaku telah mengalami kepunahan atau perilaku telah dipadamkan (extinction).

Extinction terjadi saat:
1.      Sebuah tingkah laku sebelumnya telah diperkuat.
2.      Tidak lagi mengakibatkan penguatan konsekwensi.
3.      Pemberhentian perilaku terjadi di masa datang.

Skinner (1938) ,Ferster dan Skinner (1957) (dalam raymond,2004) ; menunjukkan prinsip kepunahan dengan hewan laboratorium. Ketika merpati di ruang eksperimental tidak lagi menerima makanan sebagai penguat untuk mematuk kunci, maka perilaku mematuk kunci dari merpati berhenti. Ketika tikus laboratorium tidak lagi menerima pelet makanan untuk menekan tuas, perilaku menekan tuas menurun dan akhirnya berhenti.

Extinction Burst
Salah satu ciri dari proses kepunahan adalah bahwa setelah perilaku tidak lagi diperkuat, sering meningkat sebentar di frekuensi, durasi, atau intensitas sebelum berkurang dan akhirnya berhenti (Lerman & Iwata, 1995 dalam Raymond ,2004)).
Ketika sebuah tingkah laku tidak lagi diperkuat, akibatnya mungkin akan mengikuti:
1.      Tingkah laku akan segera meningkat frekuensi, durasi, atau intensitasnya.
2.      Tingkah laku baru mungkin terjadi.
3.      Respon yang emosional atau tingkah laku agresif mungkin terjadi.
Contoh:
Saat Rae tidak mendapatkan kopi yang diinginkan (dengan sekali menekan tombol pada mesin kopi yang biasa ia gunakan), Rae menekan tombol tersebut berulang-ulang (peningkatan frekuensi) dan kemudian terus mencoba menekannya dengan lebih keras lagi (peningkatan intensitas) sebelum akhirnya menyerah. Rae tidak hanya menekan tombol pada mesin pembuat kopi saat kopi tidak keluar tetapi juga memencet tombol keluar uang dan mengguncang-guncang mesinnya (tingkah laku baru terjadi). Karena peristiwa ini, bisa saja Rae menunjukkan kemarahannya dan mengomel atau bahkan menendang mesinnya (respon emosional terjadi).

Spontaneous Recovery
Salah satu karakteristik dari extinction adalah bahwa tingkah laku dapat muncul kembali setelah beberapa waktu tidak muncul. Hal ini disebut sebagai spontaneous recovery. Spontaneous recovery adalah kecenderungan alami perilaku untuk terjadi lagi di (dalam) situasi yang serupa dengan situasi dimana extinction belum terjadi. (Chance, 1988; Lerman, Kelly, Van Camp, & Roane, 1999; Zeiler, 1971 dalam Raymond,2004 )
Contoh:
Seorang anak yang kembali menangis di tengah malam (untuk mendapatkan perhatian) setelah sebelumnya telah terjadi extinction. Jika ia tidak mendapatkan perhatian dari tangisan itu, maka ia tidak akan lagi menangis di tengah malam untuk waktu yang lama. Namun demikian jika tingkah lakunya ini (kembali menangis di tengah malam – spontaneous recovery) saat ini mendapatkan penguatan, maka effek dari extinction akan hilang.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Extinction
1.      Jadwal penguatan sebelum extinction
Jadwal penguatan ikut menentukan apakah hasil extinction akan menurunkan tingkah laku secara cepat atau perlahan-lahan. Pada pemberianan/penjadwalan reinforcement yang kontinyu, setiap saat target perilaku tercapai maka reinforcement diberikan; sedangkan dalam penjadwalan pemberian reinforcement yang intermittent (berselang-seling), tidak setiap kali perilaku target tercapai maka akan diberi pengutan. Saat tingkah laku secara kontinyu diperkuat (dengan penjadwalan reinforcement yang kontinyu), maka tingkah laku tersebut akan menurun secara cepat saat reinforcement/penguat dihentikan. Di sisi yang lain, saat tingkah laku diperkuat dengan penjadwalan yang berselang-seling, maka tingkah laku tersebut akan menurun lebih perlahan saat reinforcement/penguat dihentikan. Hal ini terjadi karena perubahan dari reinforcement ke extinction menjadi sangat berbeda (discriminable) ketika tingkah laku diperkuat setiap kali dibandingkan dengan tingkah laku yang hanya diperkuat sesekali.

2.      Kejadian penguatan setelah extinction
Jika reinforcement/penguatan muncul saat proses extinction, hal ini membuat penurunan tingkah laku menjadi lama dan sulit. Hal ini karena penguatan dari tingkah laku, saat extinction telah dimulai, sejumlah intermittent reinforcement, menjadikan tingkah laku menjadi lebih resisten untuk extinction. Sebagai tambahan, jika tingkah laku diperkuat selama episode spontaneous recovery, tingkah laku dapat meningkat pada level ini sebelum extintion. Contoh: saat tangisan anak di tengah malam telah mengalami extinction, namun suatu ketika anak menangis lagi dan kita merespons/memberi penguatan terhadap tangisannya, maka tindakan kita ini akan menghambat extinctionnya.

D.     STIMULUS KONTROL
Stimulus Kontrol adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan situasi di mana perilaku yang dipicu oleh ada atau tidak adanya stimulus tertentu.
Contoh:
Jake meminta uang kepada ibunya karena ia ingin berbelanja dan ibunya pun memberikan uang tersebut. Ketika Jake melakukan hal yang sama kepada ayahnya, meminta uang kepada ayahnya, ayahnya menolak permintaan Jake dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan sendiri. Sebagai hasilnya, ketika Jake membutuhkan uang untuk berbelanja, maka ia akan meminta uang kepada ibunya, bukan pada ayahnya. Dari contoh kasus ini kita katakan bahwa, kesediaan ibu memberikan uang kepada Jake merupakan stimulus control bagi tingkah laku Jake untuk meminta uang.
Contoh di atas menggambarkan prinsip dari stimulus control. Dimana, sebuah tingkah laku cenderung untuk muncul saat spesific antecedent stimulus ada/terjadi. (Antecedent stimulus adalah stimulus yang mendahului terjanya tingkah laku). Sebuah tingkah laku dikatakan berada di bawah kontrol stimulus ketika kemungkinan peningkatan perilaku itu muncul saat stimulus antesedent terjadi.

Stimulus Discrimination
Stimulus kontrol berkembang karena tingkah laku diperkuat hanya jika stimulus antisedent yang spesifik hadir/ada. Oleh kaena itu, tingkah laku akan kembali muncul/berlanjut dimasa yang akan datang hanya jika stimulus antesedent hadir. Antecedent stimulus yang muncul/hadir saat tingkah laku diperkuat di berinama discriminative stimulus (SD). Secara sederhana SD/discriminative stimulus dapat dipahami sebagai stimulus spesifik yang memicu timbulnya sebuah tingkah laku, tingkah laku tidak muncul kecuali stimulus spesifik ini terjadi. Jadi SD merupakan stimulus spesifik (hanya dengan stimulus ini, bukan stimulus lain) yang menyebabkan sebuah tingkah laku muncul. Proses penguatan (reinforcing) tingkah laku hanya disaat stimulus antesedent spesifik (discriminative stimulus) hadir, disebut stimulus discrimination training.
Dua langkah yang terdapat pada stimulus discrimination training:
1.      Saat discriminative stimulus (SD) muncul/hadir, tingkah laku diperkuat.
2.      Saat antecedent stimulus yang lainnya diberikan (bukan discriminative stimulus (SD)), tingkah laku tersebut tidak mengalami penguatan (tidak diperkuat). Selama discrimination training berlangsung, antecedent stimulus lain yang muncul saat tingkah laku tidak diperkuat disebut S-delta (S).
Sebagai hasil dari discrimination training, tingkah laku cenderung untuk muncul kembali dimasa mendatang saat SD dimunculkan/tampil tapi akan cenderung untuk tidak muncul saat Sdimunculkan.

Contoh :
Anda telah mengkondisikan anjing kesayangan anda yang bernama Milo untuk berliur pada nada C pada sebuah piano dengan cara berulang kali memasangkannya dengan makanan. Kemudian anda memainkan sebuah nada C pada gitar,tanpa diikuti dengan makanan (tetapi anda terus menyajikan nada C pada piano dengan makanan). Maka hasilnya,adalah milo akan belajar untuk menghasilkan liur pada nada C dipiano dan tidak pada nada yang sama yang dimainkan pada sebuah gitar.

Generalization
Sebuah generalisasi stimulus adalah ketika stimulus dapat digeneralisasi terhadap rangsangan yang sama dan masih mendapatkan jawaban yang sama.
Generalization mengambil tempat saat suatu tingkah laku muncul/terjadi ketika stimulus yang serupa dengan SD (yang dimunculkan selama Stimulus Discrimination Training) diberiakan (Stokes & Osnes, 1989).
Contoh:
Amy belajar untuk mengenal warna merah. Saat gurunya menunjukkan sebuah buku yang berwarna merah, Amy dapat mengatakan ”merah”. Generalization dikatakan telah terjadi saat Amy juga berkata “merah” saat gurunya menunjukkan kepada Amy sebuah bola yang berwarna merah, buku yang berwarna merah, atau objek lainnya yang berwarna merah.
 

DAFTAR PUSTAKA
-          Kazdin, Alan E (1994). Behavior Modification in Applied Setting. California : Brooks/ Cole Publishing Company
-          Martin, Garry. Joseph Pear. (2003). Behavior Modification : What It Is and How to Do It Seventh Edition. New Jersey : Prentice Hall. Inc
-          Miltenberger, R. G. (2008). Behavior Modification Principles And Procedures. Thomson Learning, Inc.
-          Syah, M. (2003). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
-          Bandura, A. 1969. Principles of Behavior Modification. New York: Rinehart & Winston.
-          Blackham, G.J. and Silberman, A. 1971. Modification Of Child Behavior. Belmont, California : Wadsworth Publ. Company.
-          Gunarso, Singgih.D. 1992. Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia.
-          Ratna Wilis Dahar. 1989.  Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga.
-          G. Raymond . Behavior modification 5th edition. 2004. principles and procedures Miltenberger Edition Wadsworth
-          Wade Carole.Psikologi Umum Edisi ke-9 Jilid 1. 2007 . Jakarta : Erlangga




0 komentar:

Posting Komentar

Facebook comment