Select Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
use your language

Jumat, 26 November 2010

Psikology Kepribadian (carl rogers)

TEORI KEPRIBADIAN CARL ROGERS

  1. Biografi Carl Rogers
Carl Ransom Rogers lahir pada 8 januari 1902 di Oak Park di Illinois, anak keempat dari enam bersaudara yang lahir dari pasangan Walter dan Julia cushing. Rogers  lebih dekat dengan ibunya daripada ayahnya, karena ayahnya seorang insyinyur sipil. Rogers dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan  dan menganut aliran protestan fundamentalis  yang keras dan kaku dalam hal agama dan moral. Namun karena keluarga yang religius  Rogers jadi tertaruik untuk membaca alkitab disamping juga buku buku lainnya.
Cita-cita Rogers adalah menjadi petani  sehingga ia masuk ke university of Wiconsin jurusan pertanian. Setelah ia lulus SMA. Namun setelah tahun ke tiga nya diWiconsin dia lebih aktif dal;am kegiatan keagamaan dikampus dan menghabiskan waktu selama enam bulan untuk keliling ke China untuk menghadiri konferensi keagamaan bagi mahasiswa. Yang mempertemukannya dengan para pemimpin agama muda sehingga mengubah pemikirannya menjadi lebih liberal dan mendorongnya menjadi indepedensi dari pandangan agama orangtuanya.
Sepulangnya dari perjalanan, Rogers sakit tapi ini tidak menghalanginya untuk bekerja. Dia menyibukkan diri dengan mengerjakan pemotongan kayu dan lahan pertanian., sebelum akhirnya dia balik lagi ke Wisconsin dan bergabung dengan kelompok persaudaraan  dan menunjukkan  dan menunjukkan rasa Percaya Diri yang lebih besar.
Pada tahun 1924, Rogers masuk ke sekolah Union Theological Seminary untuk masuk ke Teacher College  untuk mempelajari  sepenuhnya topik Psikologi  Klinis dan Psikologi Pendidikan pada tahun 1927 Rogers bekerja sebagai rekanan di Institute for Child Guidance yang baru didirikan di New York City  sambil menyelesaikan gelar doktoralnya. Pada tahun 1931 di8a menerima gelar Ph.D dan kemudian dia pindah ke New York untuk bekerjadi Rochester Society for the Prevention of cruelty to Children . dan pada tahun 1936 Rogers mengundang Otto Rank ( salah satu rekan freud yang telah keluar ) untuk memberikan seminar tiga hari mengenai praktik Psikoterapi Post Freud yang memberikan keyakinan mendalam bahwa terapi ini merupakan konsep tentang hubungan yang menghasilkan pertumbuhan emosional, yang disediakan lewat cara terapis yang menyimak secara empatis dan penerimaan tanpa syarat kepada kliennya.
Selama kariernya Rogers menulis buku pertamanya yang berjudul “The Clinical Treatment of The Problem Child” (1939) yang membuatnya diundang ke Ohio State University. Kemudian pada tahun 1942 tulisannya diterbitkan dalam Counseling and Psychoterapy”
Rogers seorang anak yang pemalu dan tidak memiliki teman dekat. Sehingga ketika dia masuk ke university of Wisconsin dia hanya sanggup berbicara dengan seorang perempuan yang sudah dikenalnya sejak SD di Oak Park yang akhirnya menjadi istri Rogers yaitu Helen Elliot. Merekan menikah pada tahun 1924 dan memiliki dua orang anak David dan Nathalie. Ketika awal rumah tangganya, Rogers menjadi salah satu pemikir terkemuka yang menjadikannya bahwa hubungan antar pribadi diantara 2 individu merupakan kekuatan dahsyat yang dapat menumbuhkan perkembangan psikologis yang sehat pada diri individu tersebut. Pada masa kehidupan profesionalnya  Rogers banyak menerima penghargaan diantaranya, American Association for Apllication for Apllied Psychology, Distinguished Scientific Contibution Award (1956) dari Amerika Psychology Association ( APA) Pada 4 Februari 1987 Rogers meninggal setelah operasi bedah tulang pinggul.

  1. Teori Carl Rogers
Tokoh psikologi humanistik selain Abraham Maslow, adalah Carl Rogers. Rogers (1902-1987) menjadi terkenal berkat metoda terapi yang dikembangkannya, yaitu terapi yang berpusat pada klien (client-centered therapy). Tekniknya tersebar luas di kalangan pendidikan, bimbingan, dan pekerja sosial. Rogers sangat kuat memegang asumsinya bahwa manusia itu bebas, rasional, utuh, mudah berubah, subjektif, proaktif, heterostatis, dan sukar dipahami.



  1. Pokok-pokok Teori Carl Rogers
a. Struktur kepribadian
            Ada tiga komponen tentang struktur kepribadian menurut Rogers, yaitu:
1) Organime
            Organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya, tempat semua pengalaman dan segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran setiap saat.
            Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya. Realita adalah medan persepsi yang sifatnya subjektif, bukan benar-salah.
            Organisme adalah kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi atau bertujuan, yakni tujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
2) Medan fenomena
            Rogers mengartikan medan fenomena sebagai keseluruhan pengalaman, baik yang internal maupun eksternal, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Medan fenomena merupakan seluruh pengalaman pribadi seseorang sepanjang hidupnya.
Beberapa deskripsi tersebut menjelasakan pengertian medan fenomena:
1.      Meliputi pengalaman internal (persepsi mengenai diri sendiri) dan pengalaman eksternal (persepsi mengenai dunia luar).
2.      Meliputi pengalaman yang disimbolkan (diamati dan disusunn dalam kaitannya dengan diri sendiri), disimbolkan tetapi diingkari/ dikaburkan  (karena tidak konsisiten dengan struktur dirinya), dan tidak disimbolkan atau diabaikan (karena diamati tidak mempunyai hubungan dengan struktur diri). Pengalaman yang disimbolkan disadari, sedang pengalaman yang diingkari dan yang diabaikan tidak disadari.
3.      Semua persepsi bersifat subjektif, benar bagi dirinya sendiri.
4.      Medan fenomena seseorang tidak dapat diketahui oleh orang lain melalui inferensi empatik, itu pun pengetahuan yang diperoleh tidak bakal sempurna.
3) Self
Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati. Diri merupakan salah satu konstruk sentral dalam teori Rogers, dan ia telah memberikan suatu penjelasan yang menarik bagaimana ini terjadi
               Self merupakan konsep pokok dari teori kepribadian Rogers, yang intinya adalah :
a) terbentuk melalui medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu.
b) bersifat integral dan konsisten.
c) menganggap pengalaman yang tak sesuai dengan struktur self sebagai ancaman.
d) dapat berubah karena kematangan dan belajar.





b. Dinamika kepribadian
            Menurut Rogers, organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang maka ia makin berdiferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin tersosialisasikan. Rogers menyatakan bahwa pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu dipersepsikan (Hall dan Lindzey, 1995 :136-137).
            Rogers menegaskan bahwa secara alami kecenderungan aktualisasi akan menunjukkan diri melalui rentangan luas tingkah laku, yaitu :
1) Tingkah laku yang berakar pada proses fisiologis, termasuk kebutuhan dasar (makana, minuman, dan udara), kebutuhan mengembangkan dan memerinci fungsi tubuh serta generasi.
2) Tingkah laku yang berkaitan dengan motivasi psikologis untuk menjadi diri sendiri.
3) Tingkah laku yang tidak meredakan ketegangan tetapi justru meningkatkan tegangan, yaitu tingkah laku yang motivasinya untuk berkembang dan menjadi lebih baik.
Penerimaan Positif
Perkembanngan pengalaman menempatkan regard positif timbal balik. Orang merasa puas menerima regard positif, kemudian juga merasa puas dapat memberi regard positif kepada orang lain. Ketika regard positif itu diinternaliasai, orang dapat memperoleh kepuasan dari menerima dirinya sendiri, atau menerima diri positif  (positive self regard). Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak – kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.
Organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang, maka akan berdifferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin tersosialisasikan. Tendensi dasar pertumbuhan ini mengaktualisasikan dan mengekspansikan diri sendiri – tampak paling jelas sekali bila individu diamati dalam suatu jangka  waktu yang lama. Ada suatu gerak maju pada kehidupan setiap orang; tendensi yang tak henti-hentinya inilah yang merupakan satu – satunya kekuatan yang benar-benar dapat diandalkan oleh ahli terapi untuk mengadakan perbaikan dalam diri klien.
Secara ringkas, rogers mengasumsikan bahwa  pada dasarnya ada semua peluang semua tingkah laku manusia diarahkan atau bertujuan meningkatkan kompetensinya, yang berarti mengaktualiasasikan dirinya. Besarnya sumbangan tingkah laku terhadap tendensi aktualisasi diri dapat dinilai, melalui proses penilaian organisme (organismic valuing process). Pengalaman tingkah laku yang meningkatkan dan mengembangkan self dinilai  positif, sebaliknya pengalaman yang menghalangi aktualisasi dinilai negative. Aktualisasi diri merupakan tujuan ideal, dimana tidak seorangpun mampu mencapai aktualisasi potensinya secara tuntas. Rogers percaya, tidak ada seorangpun ang dapat menacapai aktualisasi diri sepenuhnya sehingga tidak membutuhkan motivasi lagi. Menurutnya, akan selalu ada bakat yang harus dikembangkan, keterampilan yang  harus dikuasai, atau dorongan biologic yang dapat lebih dipuaskan secara lebih efisien.
c. Perkembangan kepribadian
            Konsep diri (self concept) menurut Rogers adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, dimana “aku“ merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya“ dan “apa yang sebenarnya harus saya perbuat“. Jadi, self concept adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.
            Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu:
  1. Incongruence
            Adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.
2. Congruence
            Adalah situasi dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.
            Pribadi yang berfungsi utuh menurut Rogers adalah individu yang memakai kapasitas dan bakatnya, merealisasi potensinya, dan bergerak menuju pemahaman yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya.
             Rogers menggambarkan 5 ciri kepribadian yang berfungsi sepenuhnya sebagai berikut :
1. Keterbukaan pada pengalaman (openess to experience)
            Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positif maupun negatif.
2. Kehidupan Eksistensial (existential living)
            Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya.

3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri (organismic trusting)
            Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.
4. Perasaan Bebas (experiental freedom)
            Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan atau rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.
5. Kreativitas (creativity)
            Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri – ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.
            Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak – kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya.
            Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
            Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak – kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.
            Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda tergantung pada pengalaman-pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.











PSIKOPATOLOGI
Rogers menggambarkan konsep kongruensi dan ketidaksesuaian sebagai ide-ide penting dalam teorinya Dalam proposisi 6 ia mengacu pada kecenderungan aktualisasi. Dorongan untuk menjadi apa yang mungkin, untuk mewujudkan potensi seseorang. Pada saat yang sama ia mengakui perlunya hal positif. Pada seseorang sepenuhnya kongruen mewujudkan potensi mereka tidak mengorbankan mengalami hal positif.Mereka mampu menjalani kehidupan yang otentik dan asli individu selaras, dalam mengejar mereka menganggap positif, kehidupan hidup yang mencakup kepalsuan dan tidak menyadari potensi mereka. Kondisi menempatkan pada mereka oleh orang-orang di sekitar mereka membuat perlu bagi mereka untuk mengorbankan asli mereka, hidup otentik untuk bertemu dengan persetujuan orang lain. Mereka menjalani hidup yang tidak benar untuk diri mereka sendiri, untuk siapa mereka di dalam.
Dia menyarankan bahwa individu selaras yang selalu membela diri, tidak dapat terbuka untuk semua pengalaman dan tidak berfungsi idealnya dan bahkan mungkin tidak berfungsi. Mereka bekerja keras untuk mempertahankan / melindungi konsep diri mereka. Karena hidup mereka tidak otentik ini adalah tugas yang sulit dan mereka berada di bawah ancaman konstan. Mereka menyebarkan mekanisme pertahanan untuk mencapai hal ini. Ia menggambarkan dua mekanisme: distorsi dan penyangkalan. Distorsi terjadi ketika individu merasakan ancaman dengan konsep dirinya. Mereka mendistorsi persepsi sampai terpasang dengan konsep dirinya. Penolakan mengikuti proses yang sama kecuali bukan mendistorsi mereka menyangkal ada ancaman.
Perilaku defensif mengurangi kesadaran ancaman, tetapi bukan ancaman itu sendiri.. Dan begitu, sebagai ancaman meningkat, pekerjaan melindungi konsep diri menjadi lebih sulit dan individu lebih defensif dan kaku dalam struktur diri mereka. Jika ketidaksesuaian tersebut tidak wajar proses ini dapat mengakibatkan individu ke sebuah negara yang biasanya akan digambarkan sebagai neurotik (walaupun Rogers sendiri memilih untuk menghindari label). Berfungsi mereka menjadi genting dan psikologis rentan.. Jika situasi memburuk adalah mungkin bahwa pertahanan berhenti berfungsi sama sekali dan individu menjadi sadar ketidaksesuaian situasi mereka kepribadian mereka menjadi tidak teratur dan aneh, perilaku irasional, yang terkait dengan aspek sebelumnya menyangkal diri, mungkin meledak tak terkendali.
PERKEMBANGAN PSIKOPATOLOGI
Menurut Rogers, orang maladjustment sepertinya tidak sadar dengan perasaan yang mereka ekspresikan (yang ditangkap secara jelas oleh orang luar). Mereka juga tidak sadar dengan pernyataan yang bertentangan dengan self-nya dan menolak ekspresi yang dapat mengungkap hal itu.
Tak Saling Suai (Inhcongruence)
Orang yang secara psikologik sehat secara berkala tetap dihadapkan dengan pengalaman yang mengancam konsep dirinya yang memaksanya untuk mendistorsi atau mengingkari pengalamannya. Ketika pengalaman sangat tidak konsisten dengan stuktur self atau pengalamn inkongruen sering timbul, tingkat kecemasan yang terjadi dapat merusak rutuinitas dan orang manjadi neurotic.
Kecemasan dan Ancaman
Rogers mendefinisi kecemasan sebagai “keadaan ketidaknyamanan ayau ketegangan yang sebabnya tidak diketehui”. Ketika orang semakin tidak menyadari ketidakkongruenan antara pengalaman dengan perspesi dirinya, kecemasan berubah menjadi ancaman terhadap konsep diri konguren, dan terjadi pergeseran konsep diri kongruen.
Tingkah Laku Bertahan
Rogers hanya mengklasisikasikan dua tingkah laku bertahan, yakni distorsi dan denial (distortion and denial). Termasuk dalam distorsi adalah kompulsif, kompensasi, rasionalisasi, fantasi, projeksi.
  1. Distorsi: pengalaman diinterpretasi secara salah dalam rangka menyesuaikannnya dengan aspek yang ada dalam konsep self. Oranf mempersepsi pengalaman secara sadar tapi gagal menangkap (tidak menginterpretasi) makna pengalaman seperti yang sebenarnya. Dapat menimbulkan bermacam defense dan tingkah laku salah suai.
  2. Denial: orang menolak menyadari suatu pengalaman, atau paling tidak mengahalngi beberapa bagian dari pengalaman untuk disimbolisasi. Pengingkaran itu dilakukan terhadap pengalaman yang tidak kongruen dengan konsep diri, sehingga orang terbebas dari ancaman ketidak-kongruenan diri


kel :
Gambuang
mei2
rina



0 komentar:

Posting Komentar

Facebook comment