Select Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
use your language

Senin, 06 Februari 2012

Kepemimpinan


A  DEFINISI KEPEMIMPINAN
            Stogdill (1974,h. 259) menyimpulkan bahwa terdapat banyak definisi kepemimpinan yang banyaknya sama dengan jumlah orang yang mendefinisikan konsep ini.  Perkembangan  terbaru kepemimpinan didefinisikan berdasar ciri-ciri, perilaku, pengaruh, pola interaksi, hubungan peran, dan posisi jabatan administratif.
 Sebagian besar definisi kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan berkaitan dengan proses yang disengaja dari seseorang untuk menekankan pengaruhnya yang kuat terhadap orang lain untuk membimbing, membuat struktur, memfasilitasi aktivitas dan hubungan di dalam kelompok atau organisasi.
Sarros dan Butchatsky (1996), "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.
Definisi berbeda dalam berbagai hal, termasuk siapa yang bisa menanamkan pengaruhnya, maksud tujuan dari pengaruh itu, cara menanamkan pengaruh, dan hasil dari pengaruh itu sendiri.  Perbedaan ini bukan hanya pada masalah perbedaan ilmiah saja. Tetapi perbedaan yang memperlihatkan ketidaksetujuan yang mendalam mengenai identifikasi pemimpin dan proses kepemimpinan. Para peneliti yang berbeda konsepsinya mengenai mengenai kepemimpinan memilih fenomena yang berbeda untuk diteliti dan diinterpretasikan. Ketika kepemimpinan diidentifikasikan secara sempit oleh peneliti, ini berarti perspektif definisi kepemimpinannya telah dipersempit sehingga hanya mencakup proses yang akan dipelajari, sehingga mereka akan menemukan beberapa hal yang tidak sesuai atau tidak konsisten dengan asumsi awal mereka tentang efektifitas kepemimpinan.

Peran Khusus atau Proses Pemberian Pengaruh Bersama
            Dalam setiap kelompok terdapat peran khusus yang mencakup peran kepemimpinan yang memiliki tanggungjawab dan fungsi yang tidak dapat dibagi-bagi terlalu luas karena dapat membahayakan efektifitas kelompok. Orang yang diharapkan untuk melaksanakan peran kepemimpinan ditunjuk sebagai “pemimpin”. Anggota kelompok lainnya disebut sebagai “pengikut” walaupun sebahagian dari mereka dapat membantu pemimpin utama itu dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Perbedaan antara peran pemimpin dan pengikut tidak berarti bahwa seseorang tidak dapat memerankan kedua peran itu sekaligus pada waktu yang bersamaan. Contohnya, manajer pada sebuah departemen yang menjadi pemimpin bagi karyawan dapertemen itu juga menjadi bawahan untuk manajer yang levelnya lebih tinggi dalam organisasi tersebut.
            Para peneliti yang berpandangan bahwa kepemimpinan adalah sebuah peran khusus akan lebih memperhatikan cara menunjuk pemimpin, perilaku khusus dari pemimpin yang ditunjuk itu, dan efek dari perilaku itu terhadap anggota lainnya dalam kelompok atau organisasi.
            Cara lain untuk menelaah kepemimpinan adalah berdasar proses pemberian pengaruh yang terjadi secara alamiah pada sistem sosial dan yang banyak disebarkan kepada anggota. Manfaat mempelajari kepemimpinan sebagai proses sosial dari pada sebagai peran khusus beberapa individu dalam kelompok atau organisasi yang dharapkan oleh anggota lain untuk dimainkan.  Fungsi kepemimpinan dapat dijalankan oleh orang yang berbeda yang mempengaruh apa yang dilakukan kelompok, bagaimana melakukannya, dan cara anggota kelompok saling berhubungan berhubungan satu sama lainnya. Peneliti yang memandang kepemimpinan sebagai proses terbagi dan tersebar akan memberikan perhatian lebih pada proses memengaruhi yang kompleks yang terjadi di antara anggota, kondisi yang menentukan kapan dan bagaimana hal itu terjadi, dan konsekuensinya bagi kelompok atau organisasi tersebut.

Jenis Proses Pemberian Pengaruh
            Beberapa ahli teori membatasi definisi kepemimpinan dengan penggunaan pengaruh yang menghasilkan komitmen yang tinggi dari para pengikut yang berlawanan dengan ketidakrelaan atau keengganan untuk mematuhi. Para ahli teori ini menyatakan bahwa seseorang yang menggunakan kontrol atas penghargaan dan hukuman untuk memanipulasi atau memaksa para pengikutnya tidaklah benar-benar “memimpin” mereka dan tidak etis karena itu merupakan penyalahgunaan kekuasaan.
            Pandangan yang berlawanan adalah bahwa definisi ini terlalu membatasi karena menghilangkan beberapa proses mempengaruhi yang penting untuk memahami mengapa seorang manajer itu efektif atau tidak dalam situasi tertentu. Jenis pengaruh yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda tergantung pada sifat situasi tersebut, dan hasil kepemimpinan yang sama dapat dicapai dengan  metode mempengaruhi yang berbeda. Bahkan masyarakat yang dipaksa atau dimanipulasi tersebut akhirnya berkomiten untuk melakukan sesuatu jika kemudian mereka mengetahui bahwa hal ini merupakan pilihan terbaik bagi mereka dan bagi organisai. Masalah etika dalam penggunaan kekuasaan merupakann perhatian yang sah bagi para sarjana kepemimpinan, tetapi hal ini seharusnya tidak membatasi definisi kepemimpinan atau jenis proses pengaruh yang dipelajari.




Tujuan Mempengaruhi
            Salah satu pandangan menyatakan bahwa kepemimpinan terjadi hanya ketika orang terpengaruh untuk melakukan sesuatu yang etis dan bermanfaat bagi organisasi dan dirinya sendiri. Perilaku kepemimpinan seringkali memiliki bebarapa motif dan jarang kemungkinannya untuk menentukan batas dimana motif itu tidak mementingkan diri sendiri bukannya egois. Meskipun tujuannya baik, tindakan pemimpin kadang-kadang lebih merusak daripada memberikan manfaat bagi para pengikutnya. Sebaliknya, tindakan yang dimotivasi hanya oleh kebutuhan pribadi seorang pemimpin terkadang menghasilkan manfaat bagi para pengikut dan organisasi. Jadi, wilayah kepemimpinan yang akan dikaji jangan dibatasi oleh tujuan yang dimaksudkan.

Pengaruh Berdasarkan Penalaran atau Emosi
            Berdasarkan definisi kepemimpinan di atas terlihat menekankan pada proses rasional dan kognitif. Pada masa lalu pandangan tentang kepemimpinan merupakan proses dimana pemimppin mempengaruhi pengikutnya untuk meyakini bahwa mereka akan untung jika bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Hingga tahun 1980-an beberapa konsep kepemimpinan mengenali pentingnya emosi dasar untuk memberikan pengaruh.
            Banyak konsepsi terbaru tentang kepemimpinan jauh lebih menekankan aspek emosional pengaruh dari penalaran. Menurut pandangan ini, hanya aspek kepemimpinan yang didasarkan pada emosi dan nilai saja yang dapat diperhitungkan untuk mencapai keberhasilan luar biasa bagi kelompok dan organisasi.

Kepemimpinan Versus Manajemen
            Seseorang bisa menjadi pemimpin tanpa harus menjadi seorang manajer, dan seseorang bisa menjadi manajer tanpa harus memimpin. Menurut Bennis & Nanus, 1985; Zaleznik, 1977) berpendapat bahwa kepemimpinan dan manajemen adalah berbeda secara kualitatif dan saling meniadakan. Manajemen dan kepemimpinan tidak mungkin terjadi pada satu orang yang sama. Definisi pemimpin dan manajemen diasumsikan nilainya saling bertentangan dan berbeda kepribadian. Manajer menghargai stabilitas, keteraturan dan efsiensi, sementara pemimpin menghargai fleksibilitas, inovasi, dan adaptasi. Manajer sangat memperhatikan bagaimana sesuatu diselesaikan, dan mereka berusaha untuk membuat orang dapat melakukannya dengan lebih baik. Para pemimpin sangat memperhatikan apa arti berbagai hal bagi orang-orang dan berusaha agar orang menyepakati hal-hal penting yang harus dilakukan.
            Bennis dan Nanus (1985, h. 21) berpendapat bahwa manajer adalah orang yang melakukan segala sesuatunya dengan baik dan pemimpin adalah orang yang mengelola dengan jenis orang yang berbeda tidak didukung dengan penelitian empiris; orang tidak terbagi masuk ke dalam dua streotipe ekstrim tersebut dengan rapi.
            Menurut Bass, 1990; Hickman, 1990; Kotter, 1988; Mintzberg, 1973; Rost, 1991) memandang memimpin dan mengelola sebagai proses yang berbeda, tetapi mereka tidak berasumsi bahwa pemimpin dan manajer merupakan jenis orang yang berbeda.
Mintzberg (1973) menggambarkan kepemimpinan sebagai salah satu dari 10 peran manajerial, yaitu kepemimpinan meliputi memotivasi bawahan dan menciptakan kondisi yang menyenangkan dalam melaksanakan pekerjaan, dan sembilan peran lainnya melibatkan tanggungjawab mengelola yang berbeda, tetapi kepemimpina dipandang sebagai peran manajerial yang penting yang meliputi peran-peran lainnya.
            Kotter (1990) membedakan antara manajemen dan kepemimpinan dalam proses inti dan hasil yang diharapkan. Baik manajemen maupun kepemimipinan keduanya melibatkan keputusan apa yang harus dilakukan, menciptakan jaringan hubungan untuk melakukannya, dan berusaha untuk memastikan hal tersebut terjadi. Namun kedua proses itu mempunyai elemen yang bertentangan; kepemimpinan yang kuat dapat mengacaukan aturan dan efisiensi, sementara manajemen yang kuat dapat menghalangi pengambilan resiko dan inovasi. Manajemen yang kuat saja hanya akan menciptakan birokrasi tanpa tujuan, tetapi kepemimpinann yang kuat saja dapat membuat perubahan dengan cara yang tidak praktis.
            Rost (1991) mendefinisikan manajemen sebagai hubungan wewnang yang ada antara manajer dengan bawahannya untuk memproduksi dan menjual barang serta jasa. Sedangkan kepemimpinan menurut Rost yaitu sebagai hubungan pengaruh ke berbagai arah pemimpin dan bawahannya yang mempunyai tujuan yang sama dalam mencapai perubahan yang sebenarnya.

B.     EFEKTIFITAS KEPEMIMPINAN

            Ukuran yang paling banyak digunakan untuk mengukur efektifitas pemimpin adalah seberapa jauh unit organisasi pemimpin tersebut berhasil menunaikan tugas pencapaian sasarannya. Contoh ukuran kinerja yang objektif mengenai pencapaian kinerja atau sasaran adalah keuntungan, marjin keuntungan, peningkatan penjualan, pangsa pasar, penjualan dibanding target penjualan, pengembalian atas investasi, produktifitas, biaya perunit dan seterusnya. Sedangkan ukuran subyektifnya adalah tingkat efektifitas yang dihasilkan oleh pemimpin tertinggi, para pekerja atau bawahan.
            Sikap para pengikut terhadap pemimpin adalah indikator umum lainnya dari pemimpin yang efektif. Perilaku pengikut juga merupakan indikator tidak langsung dari ketidakpuasan dan permusuhan terhadap pemimpin. Contoh indikator ini adalah ketidakhadiran, masuk-keluar sukarel, kesedihan, keluhan pada manajemen yang tinggi, permintaan untuk pindah bagian, memperlambat pekerjaan, dan sabotase yang disengaja terhadap peralatan dan fasilitas.
            Efektifitas pemimpin kadang-kadang di ukur bedasar kontribusi pemimpin pada kualitas proses kelompok yang dirasakan oleh para pengikut atau pengamat dari luar.

Hasil Segera dan Hasil Tertunda
            Hasil yang cepat dirasakan dari usaha mempengaruhi akan terjadi bila para pengikut mau melakukan tugas yang diminta oleh pemimpin. Dampak tertunda dari kepemimpinan tergantung pada seberapa baik para pengikut melaksanakan tugas-tugasnya. Jika penundaan terjadi dalam waktu yang lama dan dicemari oleh kejadian eksternal, kriteria hasil akhir menjadi kurang berguna dibanding hasil yang lebih cepat sebagai indikator efektifitas kepemimpinan seseorang.

Kriteria Apa yang Akan Digunakan
            Pemilihan kriteria yang pantas tergantung pada tujuan dan nilai yang di buat oleh orang yang melakukan evaluasi, sementara setiap orang memiliki nilai yang berbeda. Untuk mengatasi masalah perbedaan kriteria yang digunakan, dampak tertunda, dan perbedaan pandangan pemegang saham, yang terbaik adalah dengan menggunakan berbagai kriteria yang digunakan dalam riset efektifitas kepemimpinan dan menguji dampak setiap pemimpin terhadap setiap kriteria dalam periode waktu yang panjang.

C.     KONSEPTUALISASI KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan dapat dikonseptualisasikan sebagai :
1.      Proses intra individu
2.      Proses dyadic
3.      Proses kelompok, serta
4.      Proses organisator
Sebagian besar teori kepemimpinan difokuskan pada salah satu level saja, karena sangat sulit untuk mengembangkan teori multilevel yang ringkas dan mudah diterapkan. Hingga seberapa level yang diberikan penekanan akan menentukan jenis variable criteria yang digunakan untuk menjelaskan kepemimpinan yang efektif. Level tersebut juga dapat dipandang sebagai hierarki, dimana proses pada level yang lebih tinggi mencakup proses yang terjadi pada level yang lebih rendah.

1.      Proses intra individu
Teori yang berfokus pada proses di dalam individu tunggal sangat jarang ditemukan, karena sebagia besar definisi kepemimpinan melibatkan proses perngaruh antar individu. Dalam studi tentang ciri kepemimpinan yang tidak membahas perilaku pemimpin dan proses mempengaruhi, sulit menentukan mengapa beberapa ciri atau keterampilan itu berhubungan dengan efektivitas atau kemajuan kepemimpinan. Proses intra individu hanya menjelaskan perilaku individual pemimpin, seperti pembuatan keputusan, motivasi dan kesadaran pemimpin yang mampu menjadi pemahaman untuk menyusun teori kepemimpinan yang lebih baik.

2.      Proses Dyadic
Focus dari pendekatan dyadic adalah pada hubungan antara seorang pemimpin dan individu lain yang biasanya merupakan seorang pengikut. Sebagian besar teori dyadic memandang kepemimpinan sebagai proses pengaruh timbal balik antara pemimpin dengan orang lain. Penelitian tentang proses dyadic memberikan pemahaman penting tentang kepemimpinan, tetapi sering merendahkan pentingnya konteks hubungan dyadic.

3.      Proses Kelompok
Kepemimpinan merupakan sebuah proses kelompok yang memiliki dua topic utama, yaitu sifat peran kepemimpinan dalam tugas kelompok dan bagaimana kontribusi pemimpin terhadap efektivitas kelompok. Teori efektivitas kelompok memberikan pengetahuan yang penting mengenai proses kepemimpinan dan criteria yang relevan untuk mengevaluasi efektivitas kepemimpinan. Penelitan banyak dilakukan pada kelompok kecil mengidentifikasikan penentu utama efektivitas kelompok seperti seberapa baik pekerjaan diorganisir dalam rangka memanfaatkan personil dan sumber-sumber lainnya, apakah anggota telah menjalankan peran sesuai dengan yang telah di tetapkan, hingga batas kepercayaan antar anggota dan bekerjasama dalam mencapai tujuan tugas.

4.      Proses Organisasi
Analisis level organisatoris menjelaskan kepemimpinan sebagai proses yang terjadi dalam “system terbuka” yang lebih besar, dimana kelompok merupakan subsistemnya (Fleishman et Al., 1991; Katz & Kahn, 1978; Mumford 1986 ). Kelangsungan hidup dan kemakmuran organisasi tergantung pada efektivitas adaptasinya terhadap lingkungan. Fungsi esensial kepemimpina dalam organisasi adalah membantu oragnisasiuntu beardapatasi dengan lingkungan dan mendapatkan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk bertahan bertahan hidup.
      Kelangsungan hidup dan kemakmuran juga tergantung pada efesiensi proses transformasi yang digunakan organisasi untuk menghasilkan barang dan jasa. Efesiensi ditingkatkan dengan menemukan cara yang lebih rasional untuk mengorganisir dan melakukan pekerjaan dan menentukan bagaimana cara terbaaik dalam menggunakan teknologi, sumber daya dan personil. Tanggungjawab kepemimpinan adalah mendesain struktur organisasi yang tepat, menentukan hubungan kewenangan dan mengkoordinasikan operasi antar spesialisasi sub unit dalam organisasi.

D.     TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN
1.      Teori yang Berfokus pada Pemimpin Versus yang Berfokus pada Pengikut
         Sebagian besar teori kepemimpinan menekankan pada karakteristik dan tindakan pemimpin tanpa memperhatikan karakteristik pengikut. Focus pada pemimpin sangat kuat dalam teori dan riset yang mengidentifikasi ciri, keterampilan atau perilaku yang berkontribusi pada efektivitas pemimpin.
         Hanya sedikit penelitian dan teori yang menekankan pada karakteristik pengikut, seperti teori pemberdayaan, teori atribut, teori pengganti pemimpin, bahkan teori pengaruh emosional dari karisma. Teori-teori itu tidak dapat digunakan apabila hanya berfokus pada salah satu saja, melainkan harus dengan penjelasan yang seimbang.
2.      Teori Deskriptif dan Preskriptif
Teori deskriptif menjelaskan tentang proses kepemimpinan, menjelaskan aktivitas pemimpin yang lazim dan menjelaskan mengapa perilaku tertentu terjadi dalam situasi tertentu. Teori preskriptif membahas apa yang harus dilakukan pemimpin agar menjadi efektif dan mengidentifikasi berbagai kondisi yang dibutuhkan untuk menggunakan jenis perilaku tertentu secara efektif.

3.      Teori Kepemimpinan Klasik dan Teori Kontingensi
Kepemimpinan Menurut Teori Sifat (Trait Theory)
Studi-studi mengenai sifat-sifat/ciri-ciri mula-mula mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik-karakteristik fisik, ciri kepribadian, dan kemampuan orang yang dipercaya sebagai pemimpin alami. Ratusan studi tentang sifat/ciri telah dilakukan, namun sifat-sifat/ciri-ciri tersebut tidak memiliki hubungan yang kuat dan konsisten dengan keberhasilan kepemimpinan seseorang. Penelitian mengenai sifat/ciri tidak memperhatikan pertanyaan tentang bagaimana sifat/ciri itu berinteraksi sebagai suatu integrator dari kepribadian dan perilaku atau bagaimana situasi menentukan relevansi dari berbagai sifat/ciri dan kemampuan bagi keberhasilan seorang pemimpin.
Berbagai pendapat tentang sifat-sifat/ciri-ciri ideal bagi seorang pemimpin telah dibahas dalam kegiatan belajar ini termasuk tinjauan terhadap beberapa sifat/ciri yang ideal tersebut.
Kepemimpinan Menurut Teori Perilaku (Behavioral Theory)
Selama tiga dekade, dimulai pada permulaan tahun 1950-an, penelitian mengenai perilaku pemimpin telah didominasi oleh suatu fokus pada sejumlah kecil aspek dari perilaku. Kebanyakan studi mengenai perilaku kepemimpinan selama periode tersebut menggunakan kuesioner untuk mengukur perilaku yang berorientasi pada tugas dan yang berorientasi pada hubungan. Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat bagaimana perilaku tersebut dihubungkan dengan kriteria tentang efektivitas kepemimpinan seperti kepuasan dan kinerja bawahan. Peneliti-peneliti lainnya menggunakan eksperimen laboratorium atau lapangan untuk menyelidiki bagaimana perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahan. Jika kita cermati, satu-satunya penemuan yang konsisten dan agak kuat dari teori perilaku ini adalah bahwa para pemimpin yang penuh perhatian mempunyai lebih banyak bawahan yang puas.
Hasil studi kepemimpinan Ohio State University menunjukkan bahwa perilaku pemimpin pada dasarnya mengarah pada dua kategori yaitu consideration dan initiating structure. Hasil penelitian dari Michigan University menunjukkan bahwa perilaku pemimpin memiliki kecenderungan berorientasi kepada bawahan dan berorientasi pada produksi/hasil. Sementara itu, model leadership continuum dan Likert’s Management Sistem menunjukkan bagaimana perilaku pemimpin terhadap bawahan dalam pembuatan keputusan. Pada sisi lain, managerial grid, yang sebenarnya menggambarkan secara grafik kriteria yang digunakan oleh Ohio State University dan orientasi yang digunakan oleh Michigan University. Menurut teori ini, perilaku pemimpin pada dasarnya terdiri dari perilaku yang pusat perhatiannya kepada manusia dan perilaku yang pusat perhatiannya pada produksi.

Teori Kontingensi (Contigensy Theory)
Teori-teori kontingensi berasumsi bahwa berbagai pola perilaku pemimpin (atau ciri) dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas kepemimpinan. Teori Path-Goal tentang kepemimpinan meneliti bagaimana empat aspek perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan serta motivasi pengikut. Pada umumnya pemimpin memotivasi para pengikut dengan mempengaruhi persepsi mereka tentang konsekuensi yang mungkin dari berbagai upaya. Bila para pengikut percaya bahwa hasil-hasil dapat diperoleh dengan usaha yang serius dan bahwa usaha yang demikian akan berhasil, maka kemungkinan akan melakukan usaha tersebut. Aspek-aspek situasi seperti sifat tugas, lingkungan kerja dan karakteristik pengikut menentukan tingkat keberhasilan dari jenis perilaku kepemimpinan untuk memperbaiki kepuasan dan usaha para pengikut.
LPC Contingency Model dari Fiedler berhubungan dengan pengaruh yang melunakkan dari tiga variabel situasional pada hubungan antara suatu ciri pemimpin (LPC) dan kinerja pengikut. Menurut model ini, para pemimpin yang berskor LPC tinggi adalah lebih efektif untuk situasi-situasi yang secara moderat menguntungkan, sedangkan para pemimpin dengan skor LPC rendah akan lebih menguntungkan baik pada situasi yang menguntungkan maupun tidak menguntungkan. Leader Member Exchange Theory menjelaskan bagaimana para pemimpin mengembangkan hubungan pertukaran dalam situasi yang berbeda dengan berbagai pengikut. Hersey and Blanchard Situasional Theory lebih memusatkan perhatiannya pada para pengikut. Teori ini menekankan pada perilaku pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya dan hubungan pemimpin pengikut.
Leader Participation Model menggambarkan bagaimana perilaku pemimpin dalam proses pengambilan keputusan dikaitkan dengan variabel situasi. Model ini menganalisis berbagai jenis situasi yang mungkin dihadapi seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Penekanannya pada perilaku kepemimpinan seseorang yang bersifat fleksibel sesuai dengan keadaan yang dihadapinya.

4.      Teori  Kepemimpinan  Kontemporer
Teori Atribut Kepemimpinan
Teori atribusi kepemimpinan mengemukakan bahwa kepemimpinan semata-mata merupakan suatu atribusi yang dibuat orang atau seorang pemimpin mengenai individu-individu lain yang menjadi bawahannya.
Beberapa teori atribusi yang hingga saat ini masih diakui oleh banyak orang yaitu:
1.      Teori Penyimpulan Terkait (Correspondensi Inference), yakni perilaku orang lain merupakan sumber informasi yang kaya.
2.      Teori sumber perhatian dalam kesadaran (Conscious Attentional Resources) bahwa proses persepsi terjadi dalam kognisi orang yang melakukan persepsi (pengamatan).
3.      Teori atribusi internal dan eksternal dikemukakan oleh Kelly & Micella, 1980 yaitu teori yang berfokus pada akal sehat.
Kepemimpinan Kharismatik
Karisma merupakan sebuah atribusi yang berasal dari proses interaktif antara pemimpin dan para pengikut. Atribut-atribut karisma antara lain rasa percaya diri, keyakinan yang kuat, sikap tenang, kemampuan berbicara dan yang lebih penting adalah bahwa atribut-atribut dan visi pemimpin tersebut relevan dengan kebutuhan para pengikut.
Berbagai teori tentang kepemimpinan karismatik telah dibahas dalam kegiatan belajar ini. Teori kepemimpinan karismatik dari House menekankan kepada identifikasi pribadi, pembangkitan motivasi oleh pemimpin dan pengaruh pemimpin terhadap tujuan- tujuan dan rasa percaya diri para pengikut. Teori atribusi tentang karisma lebih menekankan kepada identifikasi pribadi sebagai proses utama mempengaruhi dan internalisasi sebagai proses sekunder. Teori konsep diri sendiri menekankan internalisasi nilai, identifikasi sosial dan pengaruh pimpinan terhadap kemampuan diri dengan hanya memberi peran yang sedikit terhadap identifikasi pribadi. Sementara itu, teori penularan sosial menjelaskan bahwa perilaku para pengikut dipengaruhi oleh pemimpin tersebut mungkin melalui identifikasi pribadi dan para pengikut lainnya dipengaruhi melalui proses penularan sosial.
Pada sisi lain, penjelasan psikoanalitis tentang karisma memberikan kejelasan kepada kita bahwa pengaruh dari pemimpin berasal dari identifikasi pribadi dengan pemimpin tersebut. Karisma merupakan sebuah fenomena. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan oleh seorang pemimpin karismatik untuk merutinisasi karisma walaupun sukar untuk dilaksanakan. Kepemimpinan karismatik memiliki dampak positif maupun negatif terhadap para pengikut dan organisasi.
Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin pentransformasi (transforming leaders) mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan mengarahkannya kepada cita-cita dan nilai-nilai moral yang lebih tinggi.
Burns dan Bass telah menjelaskan kepemimpinan transformasional dalam organisasi dan membedakan kepemimpinan transformasional, karismatik dan transaksional. Pemimpin transformasional membuat para pengikut menjadi lebih peka terhadap nilai dan pentingnya pekerjaan, mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi dan menyebabkan para pengikut lebih mementingkan organisasi. Hasilnya adalah para pengikut merasa adanya kepercayaan dan rasa hormat terhadap pemimpin tersebut, serta termotivasi untuk melakukan sesuatu melebihi dari yang diharapkan darinya. Efek-efek transformasional dicapai dengan menggunakan karisma, kepemimpinan inspirasional, perhatian yang diindividualisasi serta stimulasi intelektual.
Hasil penelitian Bennis dan Nanus, Tichy dan Devanna telah memberikan suatu kejelasan tentang cara pemimpin transformasional mengubah budaya dan strategi-strategi sebuah organisasi. Pada umumnya, para pemimpin transformasional memformulasikan sebuah visi, mengembangkan sebuah komitmen terhadapnya, melaksanakan strategi-strategi untuk mencapai visi tersebut, dan menanamkan nilai-nilai baru.



Daftar Pustaka


Gary Yukl. Kepemimpinan Dalam Organisasi Edisi Kelima(alih bahasa). Indeks, Jakarta. 2005.
 


0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook comment