Select Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
use your language

Senin, 04 April 2011

Peranan Bakat Dalam Proses Belajar


PERANAN BAKAT DALAM PROSES BELAJAR


A.    Apakah Bakat itu ?

Beberapa definisi bakat menurut para ahli :

·         William B. Michael
Michael meninjau bakat itu dari segi kemampuan individu untuk melakukan sesuatu tugas, yang sedikit sekali tergantung kepada latihan mengenai hal tersebut.

·         Bingham
Bingham menitikberatkan pada segi apa yang dapat dilakukan oleh  individu, dari segi performance setelah individu mendapatkan latihan.

Orientasi yang luas mengenai berbagai pendapat tentang bakat menunjukkan, bahwa analisis tentang bakat selalu merupakan analisis tingkah laku. Menurut Guilford bakat itu mencakup tiga dimensi pokok, yaitu :

1.       Dimensi perseptual
Meliputi kemampuan dalam mengadakan persepsi, dan meliputi factor – factor antara lain :
*      Kepekaan indera
*      Perhatian
*      Orientasi waktu
*      Luasnya daerah persepsi
*      Kecepatan persepsi

2.       Dimensi Psikomotor
Dimensi Psikomotor mencakup enam faktor, yaitu :
*      Faktor kekuatan
*      Faktor impuls
*      Faktor Kecepatan Gerak
*      Faktor ketelitian / ketepatan
*      Faktor koordinasi
*      Faktor keluwesan





3.       Dimensi Intelektual
Dimensi ini meliputi 5 faktor, yaitu :
*      Faktor ingatan
*      Faktor pengenalan
*      Faktor evaluative
*      Faktor berpikir konvergen
*      Faktor berpikir divergen
Variasi bakat timbul karena variasi dalam kombinasi, korelasi dan intensitas faktor – faktor tersebut. Variasi inilah yang seharusnya dikenal seawal mungkin.
B.    Bagaimana Cara Mengenal Bakat Seseorang ?
Menurut sejarahnya usaha pengenalan bakat itu mula – mula terjadi pada bidang kerja, tetapi juga digunakan di bidang pendidikan. Pemberian nama terhadap berjenis – jenis bakat biasanya dilakukan berdasar atas dalam lapangan apa bakat itu berfungsi, seperti bakat matematika, bakat bahasa, bakat olahraga, dan sebagainya. Macam – macam bakat akan sangat tergantung pada konteks kebudayaan dimana seseorang individu hidup.
Sebenarnya setiap bidang studi atau bidang kerja dibutuhkan berfungsinya lebih dari satu faktor bakat saja. Bermacam – macam factor mungkin diperlukan untuk suatu lapangan studi atau lapangan kerja tertentu. Yang dilakukan dalam diagnosis tentang bakat adalah membuat urutan mengenai berbagai bakat pada setiap individu.
Prosedur yang biasanya ditempuh adalah :
a.       Melakukan aanlisis jabatan untuk menemukan factor – factor apa saja yang diperlukan supaya orang dapat berhasil dalam lapangan tersebut.
b.      Dari hasil analisis itu dibuat pencandraan jabatan atau lapangan studi.
c.       Dari pencandraan jabatan atau lapangan studi diketahui persyaratan apa yang harus dipenuhi supaya individu lebih berhasil dalam lapangan tertentu.
d.      Dari persyaratan itu sebagai landasan disusun alat pengungkapnya, yang biasa berwujud tes.

Bagi kita bangsa Indonesia sangat dibutuhkan sekali tes bakat tersebut , baik untuk keperluan pemilihan jabatan atau lapangan kerja, maupun pemilihan arah studi.

C.     Anak – Anak  Berbakat
Anak berbakat memepunyai kecerdasan di atas rata – rata ( biasanya di atas 130 ) atau punya bakat unggul di beberapa bidang, seperti seni, music, atau matematika. Program untuk anak berbakat di sekolah biasanya didasarkan pada kecerdasan dan prestasi akademik. Kriteria ini diperluas dengan memasukkan factor – factor seperti kreatifitas dan komitmen ( Renzulli & Reis, 1997 ).



D.    KARAKTERISTIK
Ellen Winner ( 1996 ), seorang ahli di bidang kreativitas dan anak berbakat, mendeskripsikan tiga criteria yang menjadi cirri anak berbakat :
1)      Dewasa lebih dini ( precocity ).
Anak berbakat adalah anak yang dewasa sebelum waktunya apabila diberi kesempatan untuk menggunakan bakat atau talenta mereka. Dalam banyak kasus, anak berbakat dewasa lebih dini karena mereka dilahirkan dengan membawa kemampuan domain tertentu, walaupun bakat sejak lahir ini tetap harus dipelihara dan dipupuk.

2)      Belajar menuruti kemampuan mereka sendiri.
Anak berbakat belajar secara berbeda dengan anak lain yang tidak berbakat. Mereka tidak membutuhkan banyak dukungan, atau scaffolding dari orang dewasa. Tapi, kemampuan mereka di bidang lain boleh jadi normal atau bias juga diatas normal.

3)      Semangat untuk menguasai.
Anak yang berbakat tertarik untuk memahami bidang yang menjadi bakat mereka. Mereka memperlihatkan minat besar dan obsesif dan kemampuan kuat focus. Mereka punya motivasi internal yang kuat.
Selain ketiga karakteristik anak berbakat di atas, area keempat adalah keahlian dalam memproses informasi. Para peneliti telah menemukan bahwa anak berbakat belajar lebih cepat, memproses informasi lebih cepat, menggunakan penalaran dengan lebih baik, dan memantau pemahaman mereka dengan lebih baik ketimbang anak yang tidak berbakat ( Sternberg & Clickenbeard, 1995 ).
E.     Studi Terman Klasik
Orang – orang berbakat dalam studi Terman telah matang secara intelektual sebelum, waktunya, tetapi mereka tidak mengalami gangguan emosional atau penyesuaian diri. Temuan ini juga muncul dalam sejumlah studi anak berbakat  yakni mereka yang bisa menyesuaikan  diri atau lebih baik dalam menyesuaikan diri ketimbang anak – anak yang tidak berbakat ( Winner, 1996 ). Namun anak yang sangat cerdas ( dengan IQ 180 atau lebih ) sering mengalami masalah dalam menyesuaikan diri ketimbang anak yang tidak berbakat ( Keogh & Macmillan, 1996 ).
Steven Ceci ( 1990) mengatakan bahwa analisis terhadap perkembangan kelompok dalam studi Terman menunjukkan sesuatu yang penting. Bukan IQ saja yang membuat mereka sukses. Banyak anak berbakat dalam studi Terman berasal dari keluarga menengah ke atas, dan orang tuanya punya ekspektasi tinggi atas anak mereka dan mau membimbing anak mereka menuju kesuksesan. Akan tetapi, segelintir dari anak berbakat paling sukses dalam studi Terman ternyata berasal dari jeluarga menengah ke bawah. Jadi, kesuksesan dalam hidup bagi individu berbakat tidak harus selalu diiringi dengan kekayaan keluarganya.




F.     Mendidik Anak Berbakat
Anak berbakat yang tidak merasa tertantang dapat mengganggu, tidak naik kelas, dan kehilangan semangat untuk berprestasi. Terkadang anak – anak ini suka membolos, pasif, dan apatis terhadap sekolah ( Roselli, 1996 ).

Empat opsi program untuk anak berbakat adalah ( Hertzog, 1998 )
§         Kelas Khusus
Kelas khusus selama masa sekolah regular dinamakan program “ pull-out”. Beberapa kelas khusus diselenggarakan setelah sekolah regular, atau masa liburan.
§         Akselerasi dan pengayaan di kelas regular
§         Program mentor dan pelatihan
Beberapa pakar percaya ini adalah cara penting yang jarang dipakai untuk memotivasi, menantang, dan mendidik anak berbakat secara efektif ( Pleiss & Feldhusen, 1995 ).
§         Kerja / studi / program pelayanan masyarakat










0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook comment