Select Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
use your language

Kamis, 21 April 2011

Budaya dan Kepribadian


BUDAYA DAN KEPRIBADIAN


            Penelitian kepribadian berhubungan erat dengan perilaku khas perseorangan yang membedakanya dari pribadi lain. Kepribadian merupakan hasil proses interaksi seumur hidup antara organisme dan lingkungan.
Pengaruh factor eksternal memungkinkan perbedaan sistematis dalam perilaku khas perseorangan yang dibesarkan dalam budaya berbeda. Penelitian kepribadian cenderung menekankan perbedaan diantara individu atau dalam tradisi lintas budaya,diantara anggota yang berbeda.
A.    Kelintas budayaan sifat manusia
·         Locus of control
            Hal paling menarik dari hubungan kepribadian dengan konteks lintas budaya adalah masalah locus of control. Sebuah konsep yang dibangun oleh Rotter (1966) yang menyatakan bahwa setiap orang berbeda dalam bagaimana dan seberapa besar kontrol diri mereka terhadap perilaku dan hubungan mereka dengan orang lain serta lingkungan.
            Locus of control kepribadian umumnya dibedakan menjadi dua berdasarkan arahnya, yaitu internal dan eksternal. Individu dengan locus of control eksternal melihat diri mereka sangat ditentukan oleh bagaimana lingkungan dan orang lain melihat mereka. Sedangkan locus of control internal melihat independency yang besar dalam kehidupan dimana hidupnya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri.
            Sebagai contoh adalah penelitian perbandingan antara masyarakat Barat (Eropa-Amerika) dan masyarakat Timur (Asia). Orang-orang Barat cenderung melihat diri mereka dalam kaca mata personal individual sehingga seberapa besar prestasi yang mereka raih ditentukan oleh seberapa keras mereka bekerja dan seberapa tinggi tingkat kapasitas mereka. Sebaliknya, orang Asia yang locus of control kepribadiannya cenderung eksternal melihat keberhasilan mereka dipengaruhi oleh dukungan orang lain ataupun lingkungan.

·         Persepsi diri
Studi yang dilakukan oleh Bond danTak-Sing (1983), dan Shwender dan Bourne (1984) menunjukkan bagaimana perbedaan konstruk diri mempengaruhi persepsi diri. Studi ini membandingkan kelompok Amerika dan kelompok Asia, subyek diminta menuliskan beberapa karakteristik yang menggambarkan diri mereka sendiri. Respon yang diberikan subyek bila dianalisa dapat dibagi ked lam dua jenis, yaitu respon abstrak atau deskripsi sifat kepribadian seperti saya seorang yang mudah bergaul, saya orang yang ulet; dan respon situasional seperti saya biasanya mudah bergaul dengan teman-teman dekat saya.
Hasil studi menunjukkan bahwa subyek Amerika cenderung memberikan respon abstrak sedangkan subyek Asia cenderung memberikan respon situasional. penemuan ini menyatakan bahwa individu dengan konstruk diri yang dependent cenderung menekankan pada atribut personal (kemampuan ataupun sifat kepribadian) sebaliknya individu dengan konstruk diri intersependent lebih cenderung melihat diri mereka dalam konteks situasional dalam hubungannya dengan orang lain.

B.     Pemaknaan affektif dan perilaku yang menyatakan perasaan
-          Pemaknaan affektif
Didalam pemaknaan affektif ini menjelaskan bagaimana anggota anggota beragam kelompok budaya menghayati dirinya sendiri dan lingkungan social mereka.Suatu pembedaan diantara segi objektif dan subjektif dapat dibuaw (Herskovitz,1948).
Segi objektif dicerminkan dalam indicator mengenai kondisi iklim,jumalh tahun sekolah,produk nasional dan sebagainnya.Segi subjektif mencerminkan bagaimana anggota satu budaya memandang diri sendiri dan bagaimana mereka menilai bagaimana panangan hidup mereka.

-          Perilaku yang menyatakan perasaan
Pengenalan ungkapan emosi,penelitian mengenai penggungakapan emosi dapat diruntut mulai dari dawin,Darwin membahas kajian universal tentang pengungkapan yang sama sebagai pandangan penting,emosi bawaan
Emosi dapat diklasifikasikan atas arah hubungan sosial dari emosi, yaitu apakah emosi tersebut akan mengarahkan pada pemisahan diri dengan lingkungan, penarikan diri, ataupun penolakan hubungan sosial sekaligus secara simultan meningkatkan rasa penerimaan diri untuk mandiri dan lepas dari ketergantungan pada orang lain yang selanjutnya disebut socially disengaged emotions dan emosi yang akan mengarahkan pada keterhubungan dengan orang lain dan lingkungan luarnya atau dikenal sebagai socially engaged emotions.
-          Antesenden emosi , Menyatakan setiap emosi dipicu oleh jenis jenis kejadian tertentu dan setiap budaya memiliki perbedaan terhadap penghargaan atau penialaian terhadap siatu kejadian

-          Komunikasi nirkata (komunikasi non verbal)
·         Gerakan tubuh atau gerstur, suatu bentuk komunikasi nirkata yang terkaji secara baik ketertarikan terhadap gerak tubuh memiliki akar lintas budaya   
·         Personal space, jarak pribadi didasarkan pada gagasan setiap orang dikelilingi suatu lembaran bersifat pribadi
Contoh : bagi orang jepang kalau melihat wajah orang (lawan bicara)secara langsung saat berbicara maka orang tersebut dikira tidak sopan (orang jepang memiliki personal space yang jauh.

C.     Kepribadian yang indigenous (pribumi),diri dan kesadaran
Ø      Kepribadian indigenous
Berbagai persoalan mendasar yang muncul dalam kajian kepribadian dalam tinjauan lintas budaya dia atas menggambarkan sebuah kenyataan bahwa antar budaya yang berbeda sangat mungkin secara mendasar memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa tepatnya kepribadian itu.
Suatu kenyataan yang merangsang perlunya kajian-kajian yang bersifat lokal atau indigenous personality yang mampu memberi penjelasan mengenai kepribadian individu dari suatu budaya secara mendalam.Konseptualisasi mengenai kepribadian yang dikembangkan dalam sebuah budaya tertentu dan relevan hanya pada budaya tersebut.
            Sebagai contoh kajian indigenous personality adalah penelitian yang dilakukan Doi (1973). Doi mengemukakan adanya Amae yang dikatakan sebagai inti konsep dari kepribadian orang-orang Jepang. Amae berakar pada kata ‘manis’, dan secara perlahan dirujukkan sebagai sifat pasif, ketergantungan antar individu.
Dipaparkan pula bahwa Amae berakar pada hubungan antara bayi dengan ibunya. Menurut Doi, relationship seluruh orang Jepang dipengaruhi dan berkarakteristik  Amae, sebagaimana Amae ini secara mendasar mempengaruhi budaya dan kepribadian orang Jepang. Suatu konsep yang memandang kepribadian sebagai bagian tak terpisahkan dari konsep hubungan sosial.
            Temuan mengenai Amae di atas menunjukkan adanya perbedaan konsep kepribadian antara orang Jepang dan orang Amerika. Para Psikolog Amerika memandang bahwa yang menjadi inti kepribadian adalah konsep Ego. Ego disebut ekslusif kepribadian karena Ego mengontrol pintu-pintu kearah tindakan, memilih segi-segi lingkungan kemana ia dan bagaimana caranya, serta memiliki kuasa mengontrol proses-proses kognitif berupa persepsi, memori dan berpikir. Tujuan terpenting dari Ego adalah mempertahankan kehidupan individu. Konsep yang memandang kepribadian sebagai suatu yang bersifat otonom.
Ø      Diri dan kesadaran
Konsepsi tentang diri
Hal ini merupakan paparan dan pmahaman tentang individu unik yang menjadi inti pembahasan dalam psikologi kepribadian
Pernyataan umum yang sering dikemukakan tentang konsepsi ini adalah konsepsi dibudaya barat tentang diri berkisar pada seorang individu yang terpisan,otonom dan atomis (terbentuk dari seperangkat sifat,pengumpuan,nilai dan motif),dengan mencari keterpisahan dan ketergantungan dari orang lain (markus dan kitayama 1991).
Sebaliknya dikonsepsi budaya budaya timur kebertalian, kesalingsinambungan dan kesaling ketergantungan senantiasa dicari,dengan landasan suatu konsep mengenai diri yang bukan sebuah satuan yang terpisah,tetapi selalu terkait dengan orang lain














DAFTAR PUSTAKA

Berry. Jhon., W. at all. 1999. Psikologi budaya riset dan aplikasi (alih bahasa Edi Suhadono ) Jakarta ; PT Gramedia Pustaka Utama

0 komentar:

Posting Komentar

Facebook comment