Select Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
use your language

Rabu, 26 Oktober 2011

Pembukaan Diri (Self-Disclosure)


PEMBUKAAN DIRI (SELF-DISCLOSURE)

A.    ARTI DAN PENTINGNYA PEMBUKAAN DIRI
     Pembukaan diri atau self-disclouse adalah pengungkapan reaksi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang kita hadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan atau yang berguna untuk memahami tanggapan kita di masa kini tersebut (Johnson,1981). Membuka diri berarti membagikan kepada orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukannya, atau perasaan kita terhadap kejadian-kejadian yang beru saja kita saksiakan (Johnson, 1981)
     Menurut Johnson, pembukaan diri memiliki dua sisi, yaitu bersikap terbuka kepada orang yang lain dan bersikap terbuka bagi orang lain. Terbuka bagi orang lain, berarti menunjukkan bahwa kita menaruh perhatian pada perasaannya terhadap kata-kata atau perbuatan kita.



Rounded Rectangle: BERSIKAP TERBUKA KEPADA ORANG LAIN + BERSIKAP TERBUKA BAGI ORANG LAIN = RELASI YANG TERBUKA
 




     Menurut Johnson (1981), beberapa manfaat dari pembukaan diri terhadap hubungan antar pribadi :
a.     Pembukaan diri merupakan dasar hubungan sehat dua orang
b.    Pembukaan diri merupakan dasar orang menyukai dan terbuka pada kita
c.     Pembukaan diri merupakan dasar relasi komunikasi intim dengan diri sendiri dan orang lain
d.    Orang yang rela membuka diri kepada orang lain terbukti cenderung memiliki sifat : terbuka, kompeten, ekstrover, fleksibel, adaptif dan intelegen.
e.     Membuka diri berarti bersikap realistis. Maka pembukaan diri harus jujur, tulus, dan autentik.

B.     KIAT MEMBERIKAN UMPAN BALIK
     Umpan balik dari orang lain yang kita percaya memang dapat meningkatkan pemahaman diri kita,  yakni membuat kita sadar pada aspek-aspek diri serta konsekuensi-konsekuensi perilaku kita yang tidak pernah kita sadari sebelumnya (Johnson, 1981)
     Tujuan umpan balik adalah memberikan informasi, konstruktif untuk menolong kita menyadari bagaimana perilaku kita dipersepsikan oleh orang lain dan mempengaruhinya. Umpan balik yang paling bermanfaat adalah umpan balik yang mampu menunjukkan kepada kita bahwa perilaku kita tidak atau belum seefektif sebagaimana kita harapkan, sehingga kita dapat mengubahnya agar lebih efektif. Sangat penting diperhatikan agar kita memberikan umpan balik jangan sampai bersifat menyerang atau menyinggung perasaan si penerima, sebab hal itu akan membuatnya defenisif, atau menutup diri.
     Johnson (1981) memberikan beberapa kiat untuk memberikan umpan balik yang tidak bersifat mengancam, sebagai berikut :
1.      Sebaiknya umpan balik kita arahkan pada perilaku, bukan pada pribadi perilakunya. Kita menunjuk pada apa yang telah dilakukan seseorang, bukan menilaki kepribadiannya.
2.      Sebaiknya umpan balik kita ungkapkan dalam bentuk deskripsi atau pelukisan, bukan dalam bentuk penilaian. Kita menunjuk pada peristiwa pada nyata terjadi, bukan menilai baik buruknya.
3.      Sebaiknya umpan balik kita pusatkan pada perilaku dalam situasi spesifik tertentu, bukan pada perilaku yang abstrak. Perbuata orang senantiasa terkait pada saat dan tempat tertantu. Hanya umpan balik yang mengkaitkan perilaku pada situasi pada situasi spesifik tertentu dan diberikan segera sesudah perilaku yang dimaksud terjadi, akan meningkatkan pemahaman diri perilakunya.  
4.      Sebaiknya umpan balik diberikan segera, tidak ditunda-tunda. Semakin ditunda semakin kurang manfaatnya.
5.      Sebaiknya umpan balik kita sampaikan dalam bentuk upaya berbagi perasaan, bukan dalam bentuk nasehat atau petuah.
6.      sebaiknya kita tidak memaksakan umpan balik kepada orang lain.
7.      Sebaiknya umpan balik jangan di brondongkan sampai melebihi batas kemampuan penerima untuk memikirkannya.
8.      Sebaiknya umpan balik kita arahkan pada perbuatan yang dapat diubah oleh orang yang bersangkutan, bukan pada ciri sifat yang apa boleh buat, harus diterimanya.
     Dalam memberikan dan menerima umpan balik, harus disadari menuntut keberanian, keterampilan, pengertian, penghargaan baik terhadap diri sendiri baik terhadap orang lain.

C.    PEMBUKAAN DIRI MENURUT TEORI JOHARI WINDOW
     Langkah pertama untuk membuka diri adalah denga cara keinsafan diri. Insaf diri yaitu langkah pertama pada pemahaman diri dan pembuatan keputusan pengubahan pola perilaku tertentu ke arah pola perilaku baru yang lebih efektif. Ada 2 cara untuk lebih memahami diri sendiri :
1.     “Mendengarkan” diri kita sendiri agar mengenal bagaimana perasaan dan reaksi kita serta apa yang menyebabkan perasaan-perasaan dan reaksi kita itu. Caranya, dengan mengungkapakan perasaan-perasaan dan reaksi-reaksi kita itu kepada seseorang yang kita percaya.
2.     Dengan cara meminta umpan balik dari orang lain tentang pandangan mereka terhadap diri kita dan bagaiman reaksi mereka terhadap perilaku kita.

     Joe Luft dan Harry Ingham melukiskan diri kita ibarat ruangan berserambi empat (Johari Window) :
a.     Serambi pertama berisi hal-hal yang kita ketahui dan diketahui orang lain, maka disebut daerah terbuka.
b.    Serambi kedua berisi hal-hal yang tidak kita ketahui namun diketahui orang lain, maka disebut daerah buta.
c.     Serambi ketika berisi hal-hal yang kita ketahui namun tidak diketahui orang lain, maka disebut daerah tersembunyi.
d.    Serambi keempat berisi hal-hal yang tidak diketahui baik oleh diri sendiri maupun orang lain, maka disebut daerah tidak sadar.

                                                    Diri Sendiri
                                               Tahu               Tidak Tahu


 

Orang        Tahu  
Rounded Rectangle: 4          DAERAH TAK SADARRounded Rectangle: 3          DAERAH TERSEMBUNYILain
                       Tidak
                       Tahu
                                              

     Menjalin relasi bukan lain adalah memperluas Daerah terbuka serta mengurangi daerah buta dan daerah tersembunyi kita masing-masing. Dengan semakin membuka diri,kita mengurangi daerah tersembunyi. Daerah buta kita kurangi dengan cara meminta orang lain mau semakin terbuka terhadap diri kita. Kita mengurangi daerah tersembunyi kita dengan memberikan informasi kepada orang lain agar mereka bereaksi atau menanggapi. Dengan cara tersebut mereka akan menolong kita mengurangi daerah buta kita.
     Untuk meningkatkan keinsafan diri kita dapat dilakukan dengan cara mengurangi daerah buta kita, dan hal ini menolong kita untuk semakin membuka diri kepada orang lain. Jadi, luas masing-masing serambi pada awal ( gambar diatas) menjalin relasi dan sesudah relasi dengan orang lain akan berbeda ( Johson,1981)


Gambar Pada Awal Hubungan                 

1
2
3
4
1
2
3
4







 Gambar Sesudah Hubungan berkembang 

Keterangan :

1 = Daerah Terbuka
2 = Daerah Buta
3 = Daerah Tersembunyi
4 = Daerah Tak Sadar

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook comment