Select Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
use your language
Tampilkan postingan dengan label Psi Emosi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psi Emosi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2011

Hubungan Psikologi Dengan Psikopatologi



A.    GANGGUAN EMOSI PADA PERILAKU PSIKOPATOLOGI

1.      Pengertian

     Disfungsi emosional terletak pada inti dari berbagai kondisi psikopatologikal. Psikopatologi adalah istilah yang mengacu pada baik studi tentang penyakit mental atau tekanan mental atau manifestasi perilaku dan pengalaman yang mungkin menunjukkan penyakit mental atau gangguan psikologis.
Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut sebagai Sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut "orang gila tanpa gangguan mental". Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau dirumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.
Psikopat adalah gejala kelainan kepribadian yang sejak dulu dianggap berbahaya dan mengganggu masyarakat. Namun demikian orang-orang psikopat bila dilihat sepintas memiliki sifat baik hati dan disukai tetapi sebetulnya dibalik itu semua mereka sangat merugikan masyarakat. Orang-orang seperti inilah yang oleh para banyak ahli disebut sebagai psikopat (jiwa [psyche] yang menderita kelainan [patologik]). Banyak istilah atau pengertian yang disampaikan banyak ahli tentang psikopat, namun menurut terminologi ilmu kedokteran jiwa psikopat disebut sebagai gangguan kepribadian antisosial yang secara umum memiliki karakterisik perilaku antara lain egois, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, tidak mempedulikan dampak perilakunya terhadap orang lain, menikmati dan tidak memiliki rasa penyesalan (guilty feeling)
dari penderitaan orang lain akibat perbuatannya.
1.      Faktor penyebab
Penyebab psikopat belum jelas benar hingga kini. Tapi hipotesis yang diajukan Hare menduga psikopat terjadi akibat kelainan fungsi otak. Ini didasarkan pengalaman Hare saat memeriksa seorang pasien psikopat berusia 46 tahun bernama Al. Pada otak Al terbukti ditemukan kelainan. Al tidak dapat memisahkan stimulus yang bersifat rasional dari yang emosional. Semua stimulus diolah sekaligus oleh belahan otak kiri (pusat rasio) dan otak kanan (pusat emosi). Karena itu, menurut Hare, seorang psikopat tidak sekadar berbohong atau hipokrit, tapi juga ada sesuatu yang lebih serius, yakni ada kelainan di otaknya.           
Dugaan adanya faktor biologis ini juga muncul dalam laporan Pridmore, Chambers dan McArthur pada 2005. Mereka melaporkan adanya hubungan antara gejala psikopat dengan
kelainan sistem serotonin, kelainan struktural, dan kelainan fungsional pada otak. Temuan lain disampaikan pula oleh Litman setahun sebelumnya. Ia menyebutkan, penderita psikopat
mengalami kelainan neurologik pada sindrom erotic violence. Pada 2003, Raine juga mengungkapkan ada kelainan Corpus collosum pada sosok psikopat.
Laporan lain soal penyebab psikopat diutarakan Kirkman (2002). Ia menyatakan, pengidap kepribadian psikopat memiliki latar belakang masa kecil yang tak memberi peluang untuk
perkembangan emosinya secara optimal. Anak-anak salah asuh ini akan tumbuh menjadi orang-orang yang tak bisa berempati dan tak memiliki kata hati (consceince).
Beberapa penelitian menyebutkan faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Lingkungan tersebut bisa berupa fisik, biologis dan sosial. Faktor lingkungan fisikdan sosial yang beresikoberkembangnya seorang psikopat menjadi kriminal adalah tekanan ekonomi yang buruk, perlakuan kasar dan keras sejak usia anak, penelantaran anak, perceraian orang tua, kesibukan orangtua, faktor pemberian nutrisi tertentu, dan kehidupan keluarga yang tidak mematuhi etika hukum, agama dan sosial. Lingkungan yang beresiko lainnya adalah hidup ditengah masyarakat yang dekat dengan perbuatan kriminal seperti pembunuhan, penyiksaan, kekerasan dan lain sebagainya.
Sedangkan lingkungan biologis salah satunya yang saat ini banyak diteliti adalah pola makan apakah berpengaruh terhadap tindak kriminal tersebut. Adanya penelitian yang dilakukan Peter C, dkk pada tahun 1997 didapatkan hasil yang cukup mengejutkan. Didapatkan kaitan diet, alergi makanan, intoleransi makanan dan perilaku kriminal di usia muda. Hal ini akan menjadi informasi dan fakta ilmiah yang menarik dan sangat penting. Meskipun demikian masih belum dapat dijelaskan mengapa beberapa faktor tersebut berkaitan. Terdapat beberapa faktor resiko untuk terjadi tindak kekerasan dan kriminal tersebut seperti agresifitas, emosi, impulsifitas, hiperaktif, gangguan tidur dan sebagainya. Ternyata banyak faktor resiko tersebut juga terjadi pada penderita alergi dan intoleransi makanan. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita
termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, impulsifitas hingga memperberat gejala penderita Autism dan ADHD. Penelitan lanjutan dari riset ini sangat dibutuhkan dan akan menjadi sangat penting, khususnya bagi penderita psikopat yang beresiko menjadi pelaku kriminal.

2.      Gejala-gejala psikopat

Ø  Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran,
psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
Ø  Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
Ø  Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
Ø  Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
Ø  Sikap antisosial di usia dewasa.
Ø  Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
Ø  Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
Ø  Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
Ø  Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
Ø  Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh- sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar yang bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
Ø  Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasaan dirinya.

3.      Jenis-jenis psikopat

Menurut Hervey Checkley, dalam bukunya The Mask of Sanity ( 1941 ), ada empat jenis psikopat :
Ø  Primary Psychopath yang bergeming pada hukuman, penahanan, tekanan, atau celaan. Mereka punya cara sendiri untuk memaknai kata dan kehidupan.
Ø  Secondary Psychopath adalah pengambil resiko, dan juga lebih tanggap terhadap tekanan, mudah cemas dan merasa bersalah.
Ø  Distempered Psychopath, cenderung mudah marah dan bila kumat, tingkah mereka mirip penderita epilepsi (ayan), cenderung jadi pecandu obat, kleptomania, pedofilia, bahkan
bisa jadi pembunuh dan pemerkosa berantai.
Ø  Charismatic Psychopath adalah si pembohong yang menarik dan menawan, selalu dianugerahi bakat tertentu, tapi memanfaatkannya untuk memperdaya yang lain. Pemimpin agama sekte tertentu yang mendorong pengikutnya bunuh diri bisa jadi contoh.

4.      Ciri-Ciri psikopat :
Ø Manipulasi dan menipu Mereka tidak pernah mengakui hak-hak orang lain dan melihat diri dan perilaku mereka dapat diterima. Mereka tampak menawan, tetapi diam-diam bermusuhan dan mendominasi, melihat korban mereka hanya sebagai instrumen untuk digunakan. Mereka mungkin mendominasi, mempermalukan korban-korban mereka.
Ø Rasa megah harga diri berhak untuk hal-hal tertentu sebagai "hak mereka."
Ø Berbicara dalam percaya diri dan persuasif, tetapi tanpa kejujuran atau pengawasan.
Ø Tidak dapat  berbaring dengan tenang dan hampir tidak mungkin bagi mereka untuk menceritakan kebenaran secara konsisten. Sangat meyakinkan dan bahkan mampu lulus tes kebohongan.
Ø Kurangnya rasa menyesal, malu atau rasa bersalah yang mendalam. Mereka melihat orang lain di sekitar mereka sebagai manusia, tetapi hanya sebagai sasaran dan kolektif.

5.      Lima tahap mendiagnosis psikopat
Ø Mencocokan kepribadian pasien dengan 20 kriteria yang ditetapkan Prof. Hare. Pencocokkan ini dilakukan dengan cara mewawancara keluarga dan orang-orang terdekat pasien, pengaduan korban, atau pengamatan prilaku pasien dari waktu ke waktu.
Ø Memeriksa kesehatan otak dan tubuh lewan pemindaian menggunakan elektroensefalogram, MRI, dan pemeriksaan kesehatan secara lengkap. Hal ini dilakukan karena menurut penelitian gambar hasil PET (positron emission tomography) perbandingan orang normal, pembunuh spontan, dan pembunuh terencana berdarah dingin menunjukkan perbedaan aktivitas otak di bagian prefrontal cortex yang rendah. Bagian otak lobus frontal dipercaya sebagai bagian yang membentuk kepribadian.
Ø Wawancara menggunakan metode DSM IV (The American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder versi IV) yang dianggap berhasil untuk menentukan kepribadian antisosial.
Ø Memperhatikan gejala kepribadian pasien. Biasanya sejak usia pasien 15 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan.
Ø Melakukan psikotes. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.

6.      Berhadapan dengan psikopat
Untuk menghadapi hal tersebut kita tidaklah harus bersikap paranoid atau curiga berlebihan kepada setiap orang yang kita temui. Cukup dengan hati-hati dalam berhubungan dengan orang-orang tertentu yang kita jumpai. 

Dalam bukuWit hout Conscience memberikan kita beberapa tips atau kiat-kiat untuk  melindungi diri dari psikopat :
a.       Usahakan jangan sampai terpengaruh oleh umpan mereka: senyum yang indah, kata-kata manis, atau hadiah yang berlimpah yang dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian anda dari manipulasi atau eksploitasi yang mungkin akan terjadi. Karakteristik ini punya muatan licik yang dimaksudkan untuk mengaburkan pesan individual yang sejati. Berpalinglah, dan konsentrasikan diri pada apa sebenarnya terjadi.
b.      Buka mata. Orang yang tampaknya terlalu sempurna seringkali aslinya jauh berbeda. Psikopat menyembunyikan sisi gelap mereka sampai korban mereka telah terlibat cukup dalam.
Pujian berlimpah, kebaikan palsu dan kelemahan dalam cerita yang kedengarannya hebat seharusnya bisa memberi petunjuk dan membuat anda waspada. Cari alasan yang masuk akal untuk menyelidiki mereka.
c.       Kenali diri anda. Jika tidak, anda akan diserang pada titiklemah anda. Psikopat pandai menemukan dan menggunakan kelemahan orang lain. Jadi, semakin anda menyadari hal-hal yang membuat anda gampang terpikat, semakin siap anda membentengi diri.
d.      Tetapkan aturan dasar yang tegas, dan hindari berebut kekuasaan yang tidak mungkin anda menangkan. Psikopat cenderung memegang kendali; bila sikap anda tidak jelas dan lemah, mereka akan mengambil keuntungan. Perjelas, bangun, dan jagalah batasan-batasan yang kuat.
e.       Bila perlu, mintalah bantuan profesional. Korban sering kali bertanya-tanya apakah mereka berkhayal, atau mereka membiarkan kebohongan karena tak tahu apa yang harus dilakukan. Pendapat dari ahli tak hanya mendukung kecurigaan ini, tetapi juga membantu memberi jalan keluar.

Dengan demikian yang cukup menarik bahwa dua dari struktur di otak yang paling berkaitan erat dengan suasana hati dan kognisi, yaitu, amigdala dan hipokampus, masing-masing menunjukkan letak dimana input konvergen neuroanatomy dari lingkungan internal dan eksternal yang berkumpul di dunia yang sama pada saraf elemen.

2.      GANGGUAN EMOSI PADA PENDERITA DEPRESI

       Tema yang sering muncul dalam studi depresi telah menjadi dasar teori phatophysiology yang diamati pada tindakan antidepresan. Serotonim peran utama dalam patofisiologi depresi yang awalnya diusulkan oleh identifikasi antidepresan yang bekerja pada neuron serotonergik, termasuk beberapa TCA dan trazodone, antidepresan yang pertama "atipikal" (Brogden, Heel, Speight, & Avery 1981, Bryant & Ereshefsky, 1982; Silvestrini, 1986).
Ciri khas depresi adalah perasaan sedih yang mendalam dan menenggelamkan individu. Kondisi ini kerap dipicu oleh sesuatu yang menimbulkan kegelisahan. Dalam beberapa bentuk, depresi merupakan komponen dari semua gangguan mental dan emosi. Depresi menjadi gejala gangguan emosi, ketika penderita kehilangan hubungan dengan realitas. Penderita depresi yang sangat akut akan kehilangan gairah hidup, sehingga ia gagal memperhatikan kebutuhannya sehari-hari.
Webster Dictionary mengartikan depresi sebagai suatu kondisi emosional yang bersifat normatis atau patologis, yang cirri khas nya ialah kecil hati, dan rasa tidak mampu. Dalam bidang klinis, depresi adalah rasa sedih yang dalam dan menyakitkan, biasanya disertai dengan rasa salah dan mengasihani diri sendiri.
Depresi terbagi menjadi dua macam:
1.      Depresi reaktif
Depresi yang biasanya ditimbulkan oleh faktor eksternal yang bisa saja terjadi sekali dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Depresi semacam ini dapat diatasi dengan mudah melalui saran yang mengembangkan semangat, dan teman yang menyenangka.
2.      Depresi endegenus
Depresi yang muncul dari dalam pikiran. Depresi ini berhubungan dengan faktor biokimia dalam tubuh. Pada dasarnya, jenis depresi tersebut bisa berulang dan surut kembali berkali-kali.
Depresi biasanya dianggap sebagai yang melibatkan lima bentuk karakteristik, meskipun dapat diperburuk oleh banyak kondisi emosional lainnya dan sering terjadi dalam konser dengan kecemasan:
(1)   Sedih suasana hati;
(2)   yang negatif konsep diri yang melibatkan self-cela
(3)   keinginan untuk menghindari orang lain
(4)   kehilangan keinginan untuk tidur dan keinginan seksual
(5)   tingkat aktivitas, USU sekutu dalam arah kelesuan, tapi kadang-kadang dalam
bentuk agitasi.

Ø Waktu dan Gejala Depresi
Manusia terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menyesuaikan diri dengan kekecewaan yang tak terelakan namun tetap merasa tidak terganggu, sementara kelompok kedua tidak melakukan penyesuaian praktis apapun dan meratapi kesedihan mereka. Depresi biasanya menyerang selepas masa liburan atau peristiwa menyenangkan. Ini adalah situasi psikologi yang lazim disebut dengan Monday syndrome atau holiday syndrome. Monday syndrome terdiri dari gejala-gejala terpisah semisal rasa hampa, frustrasi, gugup, kehabisan tenaga, dll. 
Depresi tak mengenal umur. Masa kanak-kanak umumnya merupakan masa yang menyenangkan bagi sebagian besar anak-anak, meski ditandai dengan rasa sebal, marah, benci, murung, dan menarik diri. Pada masa remaja biasanya ditandai dengan ketidakstabilan emosi.

Pada usia lebih lanjut, depresi biasanya berhubungan dengan kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai, pernikahan, atau kekecewaan. Pada akhirnya depresi akan berubah menjadi guncangan tatkala masa-masa pensiun, usia tua, kesulitan keuangan, kehilangan pasangan, serta kehilangan hasrat dan tujuan menjadi bagian dari pertambahan usia.Setiap tahapan kehidupan berpeluang menimbulkan depresi. Kita hanya bermimpi jika berharap untuk tidak merasa sedih sewaktu mengalami krisis atau peristiwa tertentu yang pasti terjadi dalam hidup.
Teori depresi yaitu jenis teori paralel yang telah dijelaskan dengan rinci sehubungan dengan kecemasan dan memang juga dijalankan secara paralel dengan cara di mana
emosi secara umum telah dilihat.
·         Psikoanalitik
Seperti yang diharapkan, Freud mencontohkan pendekatan psikoanalitik untuk depresi. Dia menyarankan bahwa jika kebutuhan mulut anak lebih dari-atau di bawah sutu kepuasan maka ia dapat mengembangkan ketergantungan yang berlebihan untuk harga diri. Kemudian, jika seseorang mencintai dan orang tersebut hilang, orang yang hilang adalah introjected dengan identifikasi penuh. Jadi, Freud melihat depresi sebagai kemarahan berbalik melawan diri.

·         Belajar
Teori-teori belajar menyatakan berbagai depresi dilihat sebagai kondisi yang terutama dicirikan oleh penurunan aktivitas yang dikuti penarikan atau kehilangan. Yang paling berpengaruh pada teori depresi Seligman (misalnya, 1975), yang tergantung pada ide sentral dari ketidakberdayaan yang dipelajari. Hal ini menunjukkan kecemasan yang respon awal terhadap situasi stres dan kemudian jika orang itu datang untuk percaya bahwa situasi tidak terkendali, kecemasan digantikan oleh depresi.


·         Fisiologis
Ada dua jenis utama dari teori fisiologis depresi. Yang pertama adalah berpendapat atas dasar gangguan dalam metabolisme elektrolit pasien depresi. Kalium natrium dan klorida sangat penting dalam pemeliharaan potensial dan pengendalian rangsangan dalam sistem saraf. Biasanya, adanatrium lebih di luar neuron dan lebih banyak kalium di dalamnya, tetapi pada pasien depresi
distribusi ini terganggu. Teori kedua pandangan depresi fisiologis sebagai akibat dari inhibisi pada transmisi saraf. Hal ini diduga terjadi dalam sistem saraf simpatik (SNS) dan untuk melibatkan pemancar saraf yang - norepinefrin. Sulit sekali, teori ini tidak menyebutkan hubungan teoritis antara faktor psikologis dan fisiologis dalam depresi.

·         Kognitif
Beck (misalnya, 1967) mencontohkan teori kognitif depresi dengan titik awal melalui pikiran dan keyakinan yang menyebabkan keadaan emosional. Dia berpendapat bahwa orang-orang menjadi depresi melalui pembuatan kesalahan logis; mereka mendistorsi peristiwa dan menyalahkan diri sendiri. Orang yang depresi menafsirkan semuaacara dari skema diri depresiasi dan menyalahkan diri sendiri.

GANGGUAN EMOSI PADA PENDERITA ANXIETY

          Kecemasan dan ketakutan adalah keadaan normal emosional manusia yang melayani fungsi adaptif. Gangguan kecemasan adalah salah satu kategori sindrom psikiatris (DSM-IV, American Psychiatric Association, 1994) yang ditandai dengan gejala kecemasan maladaptif. Obssesive kompulsif (OCD) ini ditandai dengan pikiran yang  mengganggu, pikiran yang tidak diinginkan dan ritual, serta perilaku repetitif.
Kecemasan, kekhawatiran, kepanikan, ketakutan, kegelisahan merupakan gejala psikologis yang umum dan dapat dirasakan oleh setiap individu. Reaksi kecemasan biasanya sering terjadi pada orang dewasa, namun anak-anak juga dapat menghadapi rasa cemas, seperti ditinggalkan sementara oleh orang tua, hari pertama masuk sekolah atau pada saat ingin menghadapi ujian. Pada kasus orang tua, reaksi kecemasan sering terjadi ketika mereka menghadapi tekanan (stres) dengan adanya kesulitan yang dapat dihadapi maupun kesulitan yang tidak dapat dihadapinya, seperti tekanan pekerjaan, tekanan pada saat sekolah/kuliah, tekanan pada masalah percintaan maupun tekanan pada masalah kesehatan.
Barlow mencirikan kecemasan sebagai struktur kognitif-afektif yang melibatkan emosi negatif yang tinggi yang tidak terkontrol, fokus diri dan keasyikan diri. Ia juga  berpendapat bahwa sulit untuk membedakan antara kecemasan dan depresi, karena kebanyakan pasien depresi juga cemas, tapi tidak semua pasien cemas mengalami depresi. Barlow menamakan kembali kecemasan sebagai “anxious apprehension”, sebuah masa depan-berorientasi pada tingkatan suasana hati. Inilah kondisi yang telah dipersiapkan dengan peristiwa negative untuk seterusnya.
Reaksi kecemasan yang terlalu berlebihan dan menetap terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama dapat berubah menjadi sebuah gangguan, yaitu ganguan kecemasan (anxiety disorder). Sifat gangguan kecemasan dapat menghasilkan respon terhadap fisik maupun psikologis.
Gangguan kecemasan adalah sebuah penyakit mental yang serius yang ditandai dengan perasaan cemas yang besar dan berlebihan, seperti perasaan ketakutan berlebihan, jantung berdebar lebih keras, nafas tersengal, berkeringat, tarikan nafas pendek, mudah merasa pusing dan perasaan tidak tenang.
Orang yang mengalami gangguan kecemasan mengalami reaksi ini sering sekali dan lebih berat, menyebabkan mereka tertekan dan menyebabkan mereka tidak dapat melakukan pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka menjadi sangat waspada, karena sangat takut terhadap bahaya, akibatnya mereka sulit untuk rileks dan juga sulit merasa tenang dalam banyak situasi.

Beberapa jenis gangguan kecemasan adalah :
1.      Fobia
Kriterianya seperti penolakan berdasarkan ketakutan terhadap benda-benda atau situasi yang dihadapi yang sebetulnya tidak berbahaya dan penderita mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada dasarnya, seperti sumber binatang, ketinggian, tempat tertutup, darah.
2.      Agrofobia
Sekelompok ketakutan yang berpusat pada tempat-tempat publik, takut berbelanja, takut kerumunan, takut berpergiaan dan banyak yang minta pertolongan.
3.      Fobia Sosial
Kecemasan sosial tidak rasional karena adanya orang lain. contoh : takut bicara di hadapan publik, takut makan di tempat umum, takut menggunakan wc umum, jarang minta bantuan, terjadi pada masa remaja, karena masa itu kesadaran dan interaksi sosial dengan orang lain menjadi penting dalam kehidupannya.
4.      Gangguan Panik
Tanda-tanda sekonyong-konyong sesak nafas, detak jantung keras, sakit di dada, merasa tercekik, pusing, berpeluh, bergetar, ketakutan yang sangat akan teror, ketakutan akan ada hukuman, perasaan ada di luar badan, merasa dunia tidak nyata, ketakutan kehilangan kontrol , ketakutan menjadi gila dan takut akan mati.
5.      Gangguan Kecemasan Menyelur (GAD)
Gangguan ini melibatkan rasa khawatir yang berlebihan, sering kali tidak realistis, meski tidak ada hal-hal yang memprovokasi ketakutan tersebut. Tanda-tandanya adalah kecemasan kronis terus menerus mencakup situasi hidup, adanya keluhan somatis, seperti berpeluh, jantung berdetak keras, mulut kering, tangan dan kaki dingin, ketegangan otot dan sulit untuk berkonsentrasi.
6.      Gangguan Obsesif kompulsif (OCD)
Orang-orang yang mengalami OCD ini biasanya memiliki gangguan pikiran yang konstan dan ketakutan-ketakutan tertentu akan sesuatu secara berlebihan sehingga mendorongnya untuk melakukan ritual atau rutinitas tertentu. Misalnya, orang yang takut pada kuman secara berlebihan sering kali berpikiran bahwa ada banyak kuman di sekelilingnya, sehingga setiap kali ia menyentuh sesuatu, ia harus segera mencuci tangan atau menggunakan pembersih tangan.
7.      Gangguan Kecemasan Pasca Trauma (PTSD)
Orang dengan gangguan PTSD ini biasanya pernah mengalami trauma atau peristiwa yang sangat mengerikan seperti pelecehan seksual atau fisik, kematian tak terduga orang yang dicintai, atau bencana alam. Orang dengan PTSD sering memiliki pikiran dan kenangan yang abadi dan cenderung menakutkan terhadap kejadian tersebut. Biasanya, mereka cenderung mati rasa secara emosional.

Kamis, 10 November 2011

Kecerdasan Emosional


A.     Definisi kecerdasan emosional
Sebelum dikenalkannya istilah kecerdasan emosional oleh Peter Salorey dari Harvard University dan John Meyer dari University of New Hampshire pada tahun 1990 dan dimasyarakatkan oleh Daniel Goleman (1995), kecerdasan diartikan dengan amat sempit, yaitu sebagai kemampuan menyerap, mengolah, mengekspresikan, mengantisipasi dan mengembangkan hal-hal yang bersangkut paut dengan pengetahuan, ilmu dan teknologi, dengan kata lain kecerdasan diartikan dengan “Kemampuan berfikir” yang hasilnya dapat diukur dengan angka-angka yang sering disebut dengan IQ, yang mengukur baik kemampuan verbal maupun non verbal, termasuk ingatan, perbendaharaan kata, wawasan, abtraksi, logika, ketrampilan motorik visual (faktor intelegensi umum) yang biasanya berkorelasi dengan ujian bakat seperti ujian masuk Perguruan Tinggi dan sebagainya. Namun pada dasa warsa terakhir abad 20 ini, konsep kecerdasan tersebut dikembangkan dengan pengertian yang lebih luas, yaitu kecerdasan emosional.
Para Psikolog telah mengusulkan beberapa definisi kecerdasan emosional (EI), akan tetapi maksud awalnya adalah untuk memahami bagaimana beberapa orang yang begitu pintar dalam beberapa hal (memiliki kecerdasan teori) bisa begitu bodoh dengan cara lain (kurangnya tingkat kecerdasan dalam praktik). Seseorang dapat memiliki kecerdasan teori tetapi tidak dalam prakteknya karena kurangnya kesadaran emosional dan kontrol (kecerdasan emosional).
Sebagai contoh seorang mahasiswa di perguruan tinggi memiliki banyak kesulitan dalam menguasai mata kuliah, tetapi ia memiliki jaringan besar dalam pertemanannya. Dia diundang di setiap pesta dan merupakan anak paling trendi dikelasnya. Selain itu, ia juga dikenal sebagai anak yang baik oleh orang dewasa di lingkungannya. Dia membuat semua keputusan hidupnya dengan tepat, meskipun ia memiliki tantangan atau masalah dalam akademisnya.
Adapun ciri-ciri orang yang memiliki tingkat emosional cerdas yaitu :
Ø  Berhasil mengelola situasi sulit
Ø  Mengekspresikan diri dengan jelas
Ø  Mendapatkan rasa hormat dari orang lain
Ø  Tetap tenang dibawah tekanan
Ø  Tahu bagaimana mengatakan “benar” dengan bahasa yang benar
Ø  Mengelola diri secara efektif (mempengaruhi) saat bernegosiasi
Ø  Memotivasi diri untuk mendapatkan sesuatu
Ø  Tahu bagaimana menjadi positif bahkan disaat mengalami situasi yang sulit
Meskipun perilaku tersebut tidak sesuai dalam setiap definisi formal kecerdasan emosional, mereka mewakili perilaku khas untuk orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi. Orang bisa meningkatkan kecerdasan emosional mereka namun tidak semua orang bisa menjadi superstar di semua bidang.
Adapun beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian kecerdasan emosional ini, antara lain :
Ø  Dr. Patricia Patton (1997)
kecerdasan emosional adalah kekuatan dibalik singgasana kemampuan intelektual. Makna yang dikemukakan di atas secara implisif  bisa ditangkap adanya faktor-faktor lain yang sangat berperan terhadap keberhasilan seseorang diluar faktor IQ yang selama ini diagung-agungkan.
Ø  Salorey dan Meyer (1996)
kecerdasan emosional sebagai suatu himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan untuk membimbing pikiran dan tindakan. Mereka memberikan batasan kecerdasan emosi sebagai kemampuan untuk mengerti emosi, menggunakan dan untuk membantu pikiran, mengenal emosi dan intelek.
Ø  Harmoko (2005) Kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Jelas bila seorang individu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta mampu menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.
Dibukunya Goleman (1997) menguraikan tentang ciri-ciri kecerdasan emosi yang mencakup : kesadaran diri dan dorongan hari, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati dan kecerdasan sosial. Kecerdasan social ini  memcerminkan kemampuan seseorang untuk memahami bagaimana orang lain merasakan dan sampai batas tertentu mengelola emosi serta perilaku orang disekitarnya. Jika orang tersebut hidup sebagai seorang pertapa, ia mungkin tidak peduli pada apa yang dirasakan dan dipikirkan orang lain.
Bahkan bila orang tersebut adalah seorang pengembala dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan gembalaannya, orang tersebut tentunya tidak banyak menggunakan kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional tidak hanya tentang bersikap baik kepada orang-orang, namun juga mengenali perspektif orang lain dan menggunakan emosi secara tepat. Jadi dalam beberapa kasus, kecerdasan emosional berarti memiliki ketangguhan dalam menghadapi orang lain atau menunjukkan pada orang lain emosi kita. Namun, pada dasarnya kecerdasan emosional lebih berfokus pada kemampuan untuk membaca emosi orang lain dan menggunakan emosi secara tepat.
Berkenaan dengan adanya dua kecerdasan itu, yaitu kecerdasan intelektual yang menyatu pada kemampuan berfikir, dan kecerasan emosional yang menyatu pada kemampuan beremosi, dapat dikatakan bahwa dimungkinkan orang-orang yang IQ tinggi mengalami kegagalan, sedangkan atau mereka yang ber IQ sedang –sedang saja dapat mencapai sukses besar. Goleman dalam bukunya juga menyatakan bahwa prosentase kontribusi IQ dalam menunjang kesuksesan seseorang tak lebih dari 20 persen didukung oeh faktor lainnya, termasuk kecerdasan emosional.
Kedua jenis kecerdasan merupakan kekayaan yang tidak ternilai bagi individu yang tidak bersangkutan, pengembangan dan penggunaan secara optimal dan seimbang akan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kesuksesan seseorang ( di samping kuasanya Tuhan ).
Dan yang lebih menarik adalah bahwa IQ sangat di pengaruhi oleh faktor keturunan tetapi EQ (Kecerdasan Emosional ) bisa di latih dan di kembangkan, sehingga membuka kesempatan bagi orang tua dan pendidikan dan asuhan maupun perlakuan agar mereka mampu mengembangkn kecakapan-kecakapan emosionalnya dan pada akhirnya mampu membuka peluangnya lebih besar untuk mencapai keberhasilan.

B.     Pengukuran Emosi
Pengukuran kecerdasan emosional ( Emosional Quotient ) sebagaimana yang di lakukan stanford-Briet dan uji kecerdasan yang di lakukan olehWeeksler ( Weeksler Intellegence Scales ) belumlah banyak di lakukan orang. Para ilmuwan sekarang memahami bahwa menjadi sangat pintar dalam satu atau dua bidang tidak berarti bahwa pintar dalam segala bidang. Anda bisa sangat cerdas dalam akademis tetapi memiliki kecerdasan emosional yang rendah. Menurut Steven J. Stein, PhD dalam bukunya Emosional Intelligence for Dummies mengatakan bahwa para psikolog menggunakan beberapa test untuk mengukur kecerdasan emosional. Test tersebut umumnya terbagi dalam 3 kategori :
a.       Laporan tes diri, membandingkan tanggapan anda ke data base ribuan orang lain dan menutupi area yang mencakup bagaimana anda melihat diri anda berurusan dengan situasi sulit, bagaimana anda cenderung untuk berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana anda menggambarkan suasana hati anda saat itu. Yang paling umum digunakan adalah tes EQ-I Self Report.
b.      Penilaian 360 derajat, mencakup persepsi orang lain. Orang yang tahu anda dari perspektif yang berbeda-beda baik itu bos anda, pasangan anda, bawahan anda, dan semua laporan tentang bagaimana mereka melihat anda berprilaku sama dengan penilaian anda sendiri terhadap diri anda. Para ahli psikologi umumnya menggunakan penilaian tes 360 derajat yaitu EQ-360.
c.       Penilaian kerja, yang terstruktur seperti tes IQ. Tes ini mengukur kecerdasan emosi sebagai kemampuan. Orang yang memakai tes ini, penilaian mungkin akan diminta untuk mengenali emosi dalam gambar orang, pilih tanggapan terhadap situasi kehidupan yang sulit, atau menunjukkan pemahaman prinsip-prinsip dasar tentang emosi. Para professional menggunakan uji membandingkan skor subjek pada item ini ke ribuan orang lain yang telah menyelesaikan tes tersebut. Yang paling umum digunakan adalah hasil penilaian tes MSCEIT.
Selain itu, dari kepustakaan yang ada saat ini ( 2000 ) barulah Cooper dan Sowaf sebagaimana di sampaikan johana E Prawitasari ( peneliti UGM ) bahwa sudah mengembangkan pengukuran kecerdasan emosi untuk para eksekutif dalam mengelola organisasi. Mereka mengembangkan 21 skala untuk menemukan EQ seorang ekskutif.
Ø  Bagian I terdiri dari skala I sampai dengan 3 yaitu pernyataan tentang peristiwa hidup yang menimbulkan ketegangan, tekanan kerja dan tekanan pribadi;
Ø  Bagian II berisi skala 4 sampai dengan II, pernyataan tentang kenekatan emosi, ekpresi emosi dankecerdasan emosi orang lain.
Ø  Bagian III berisi skala 7 sampai dengan 11, pernyataan dalam skala-skala itu meliputi intensiolitas, kreatifitas, kelenturan hubungan antar pribadi dan ketidakpuasan kontruksif.
Ø  Bagian IV mengukur nilai dan keyakinan EQ dalam skala 12 sampai dengan skala 17. Pernyataan-pernyataan dalam skala itu menyangkut keharuan, optimisme, intuisi, radius, kepercayaan, kekuatan pribadi dan integritas.
Ø  Bagian V terdiri atas skala 18 sampai dengan 21 yang berisi tentang kesehatan umum, kualitas hidup, rasio hubungan dankinerja optimal.
Angka-angka yang di peroleh dari skala-skala itu di bandingkan dengan penilaian melalui kisi-kisi pada peta EQ. Dalam ruang lingkup yang lebih luas misalnya mengukur tentang empati, keramahan, percaya diri atau sikap hormat pada orang lain, kehidupan pribadi dan sosial yang sejuk semangat tinggi, aktif mengendalikan amarah dsb.
Sebagaimana yang di akui sendiri oleh Goleman, belum ada pengukuran baku untuk menentukan kecerdasan emosi tersebut. Tapi penerapan kecerdasan emosi bagi kehidupan bisa di latihkan dan di lakukan, sebagaimana yang di tulis dalam buku Daniel Goleman ( Emotional Intelegence, 1995 ) dan di uraikan lebih operasional oleh Lawrence E Shapiro ( How to Raise A Child With a High EQ, 1997 )
Disamping itu, kecerdasan emosi juga dapat diukur dari beberapa aspek-aspek yang ada. Goleman(2001, p.42-43) mengemukakan lima kecakapan dasar dalam kecerdasan Emosi,yaitu:
a.      Self awareness( Mengenali Emosi Diri )
Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Kesadaran diri membuat kita lebih waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi
b.      Self management (Mengelola Emosi)
Yaitu merupakan kemampuan menangani emosinya sendiri, mengekspresikan serta mengendalikan emosi, memiliki kepekaan terhadap kata hati, untuk digunakan dalam hubungan dan tindakan sehari-hari. Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi.
c.       Motivation
Motivasi adalah kemampuan menggunakan hasrat untuk setiap saat membangkitkan semangat dan tenaga untuk mencapai keadaan yang lebih baik serta mampu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif, mampu bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
d.      Empati (social awareness)
Empati merupakan kemampuan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain,mampu memahami perspektif orang lain, dan menimbulkan hubungan saling percaya serta mampu menyelaraskan diri dengan berbagai tipe individu. Menurut Goleman, kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.
e.       Relationship managemen  ( Membina Hubungan)
Merupakan kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan menciptakan serta mempertahankan hubungan dengan orang lain. Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar sesama.



C.     Pro dan Kontra tentang kecerdasan emosional
Selama bertahun-tahun IQ telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan, namun sejalan dengan tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di kalangan akademisi, pendidik, praktisi bisnis dan bahkan publik awam, terutama apabila dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi hidup seseorang. Daniel Goleman (1999), adalah salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni kecerdasan emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ).
Mengingat pentingnya peran emosi dalam kehidupan, tidaklah mengherankan kalau sebagian keyakinan tradisional tentang emosi yang telah berkembang selama ini bertahan kukuh tanpa informasi yang tepat untuk menunjang ataupun menentangnya–sebagai contoh ada keyakinan yang telah diterima secara luas bahwa sebagian orang dilahirkan dengan sifat yang lebih emosional dibanding yang lainnya. Konsekuensinya, sudah menjadi kenyataan yang diterima masyarakat bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah karakteristik ini. Pada zaman dulu perbedaan emosionalitas ini dinyatakan sebagai hasil dari perbedaan keadaan jasmani, dan pendapat mutakhir mengatakan bahwa perbedaan emosionalitas merupakan akibat dari perbedaan dalam kelenjar endokrin.(Elizabeth B. Hurlock, 1997, hal 210)
Dari kedua pandangan awam tersebut dapat dipahami, bahwa perbedaan emosionalitas ini bersifat genetik atau (diturunkan). Nampaknya keyakinan awam tersebut tidak bisa diubah sebelum bukti ilmiah diperoleh, bahkan keyakinan telah bertahan kuat hingga mempergauli cara orang tua dan guru (para pendidik) yang mempunyai peran pengganti dalam bereaksi terhadap emosi anak.
Namun berkat penelitian para pakar dalam berbagai bidang, khususnya para psikologi menunjukan bahwa sebenarnya faktor genetik bukanlah satu-satunya yang mempengaruhi emosionalitas anak, terdapat faktor lainnya yang sangat dominan, bahkan menentukan emosionalitas anak, yaitu faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini meliputi berbagai hal lainnya seperti lingkungan keluarga sebagai lingkungan yang pertama kali dapat mempengaruhi perkembangan emosionalitas anak, lingkungan sekolah, serta lingkungan masyarakat.
Di samping itu berbeda dengan IQ yang penelitiannya telah berumur hampir seratus tahun atas ratusan ribu orang, kecerdasan Emosional (EQ) ini merupakan konsep baru. Sampai sekarang belum ada yang dapat mengemukakan dengan tepat sejauh mana variasi yang ditimbulkannya atas perjalanan hidup seseorang. Tetapi data yang ada mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional dapat sama ampuhnya, dan terkadang lebih ampuh daripada IQ. (Goleman, 1995)

D.     Pro dan Kontra Teori Daniel Goleman
Pendapat Goleman mendapatkan banyak tanggapan pro dan kontra di kalangan para Psikolog. Beberapa Psikolog memandang pendapat Goleman sangat penting bagi pengembangan keterampilan atau keahlian dalam suatu pekerjaan, sementara yang lain menganggap bahwa validitas EQ yang menunjang terbentuknya suatu keterampilan dan keahlian belum terbukti. Ada juga yang tidak sependapat bahwa EQ dapat diajarkan. Bagi mereka hanya kemampuan kognitif dan ketrampilan teknis yang merupakan hal utama yang dapat membuat seseorang menjadi sukses dalam pekerjaan.
Edward Gordon, yang mengatakan bahwa EQ lebih banyak berhubungan dengan kepribadian dan "mood" (suasana hati) yang tidak dapat diubah. Menurut Gordon, perbaikan kemampuan analisis dan kemampuan kognitif, adalah cara terbaik untuk meningkatkan kinerja para pekerja. Menanggapi kritikan tersebut, Goleman mengatakan bahwa kemampuan kognitif mengantarkan seseorang ke "pintu gerbang suatu perusahaan", tetapi kemampuan emosional membantu seseorang untuk mengembangkan diri setelah diterima bekerja dalam sebuah perusahaan. EQ merupakan faktor yang sama pentingnya dengan kombinasi kemampuan teknis dan analisis untuk menghasilkan kinerja optimal. Semakin tinggi jabatan seseorang dalam suatu perusahaan semakin crusial peran EQ.
Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Noriah Mohd. Ishak, dkk mengenai Kecerdasan Emosional Dan Hubungannya Dengan Nilai Kerja, dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan pengendalian emosi tenaga pendidik (guru) di Maktab Rendah Sains MARA (MRMS), Malaysia. Dimana, dari hasilpenelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan yang signifikan di antara kecerdasan emosi dan nilai kerja di kalangan guru MRMS walaupun kekuatan hubungan tersebut adalah di peringkat sederhana (rendah). Hal ini boleh diinterpretasikan bahwa guru yang mempunyai kecerdasan emosional yang baik juga menunjukkan prestasi kerja yang baik terutamanya dikalangan guru-guru yang baru mengajar kurang dari sepuluh tahun. Kajian ini mempunyai dampak yang besar kepada dasar pendidikan guru dimana pelatihan kecerdasan emosi untuk guru-guru perlu diperkenankan di dalam kurikulum pendidikan guru di Malaysia.
Dengan memanfaatkan penelitian yang menggemparkan tentang otak dan prilaku, Goleman memperlihatkan factor-faktor yang terkait mengapa orang ber-IQ tinggi gagal dan orang ber-IQ sedang menjadi sangat sukses. Factor-faktor ini mengacu pada suatu cara lain untuk menjadi cerdas, dimana cara yang disebutnya “kecerdasan emosional”, yang mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati dan kecakapan sosial.
Sebagaimana ditunjukkan oleh Goleman, kerugian pribadi akibat rendahnya kecerdasan emosional dapat berkisar mulai dari kesulitan perkawinan dan mendidik anak hingga ke buruknya kesehatan jasmani. Penelitia baru memperlihatkan bahwa amarah dan kecemasan kronis dapat menciptakan resiko besar bagi kesehatan seperti hal nya merokok berantai.rendahnya kecerdasan emosional dapat menghambat pertimbangan intelektual dan menghancurkan karier. Barangkali kerugian terbesar diderita oleh anak-anak yang mungkin dapat terjerumus dalam resiko terserang depresi, gangguan makan dan kehamilan yang tak diinginkan, agresifitas, serta kejahatan dengan kekerasan.


Daftar Pustaka

Atkinson, R. L. dkk. 1987. Pengantar Psikologi I. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Cooper Cary & Makin Peter, 1995. Psikologi Untuk Manajer. Jakarta: Arcan.
Goleman, Daniel. 1997. Emotional Intelligence. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Harmoko, R., Agung, 2005. Kecerdasan Emosional. Binuscareer.com
Elizabeth B. Hurlock,1997. Perkembangan Anak, Jakarta: Erlangga
Noriah Mohd. Ishak, dkk. 2003. Kecerdasan Emosi Dan Hubungannya Dengan Nilai Kerja. Jurnal Teknologi
Steven J. Stein, PhD. 2009. Emotional Intelligencefor Dummies. Printed in the United States




Rabu, 05 Oktober 2011

Memahami Ekspresi Emosi

Emosi adalah keadaan internal yang memiliki manifestasi eksternal. Meskipun yang bisa merasakan emosi hanyalah yang mengalaminya, namun orang lain kerap bisa mengetahuinya karena emosi diekspresikan dalam berbagai bentuk. Emosi diekspresikan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Ekspresi verbal misalnya menulis dalam kata-kata, berbicara tentang emosi yang dialami, dan lainnya. Ekspresi nonverbal misalnya perubahan ekspresi wajah, ekspresi vokal atau (nada suara dan urutan pengucapan), perubahan fisiologis, gerak dan isyarat tubuh, dan tindakan-tindakan emosional. Ekspresi wajah. Mengapa Anda bisa tahu seseorang sedang bahagia atau sedih? Sebab emosi bahagia dan sedih itu diekspresikan melalui raut wajah. Hanya dengan melihat wajah seseorang, Anda sering tepat menebak emosi yang dialami orang itu. Anda tahu wajah seseorang yang sedang marah, sedih, bahagia, takut atau terkejut. Pasti berbeda wajah ditunjukkan pada saat marah dan pada saat sedih.
Saat Anda merasakan emosi terdapat perubahan fisiologis yang mengiringi baik yang bisa Anda rasakan maupun tidak. Pada saat takut, Anda mungkin merasakan detak jantung meningkat, berdebar-debar, kaki dan tangan gemetar, bulu kuduk merinding, otot wajah menegang, berkeringat, kencing di celana, dan sebagainya. Perubahan-perubahan itu tidak jarang juga diketahui orang lain. Begitulah, emosi diekspresikan dalam gerak dan isyarat tubuh. Kita kadang cukup tahu seseorang sedang gugup atau jatuh cinta hanya dari bahasa tubuhnya. Seseorang yang gugup menjadi tidak hati-hati, banyak melakukan gerakan tidak perlu, sering melakukan kesalahan, berkeringat dan semacamnya. Orang yang jatuh cinta menatap yang dicintai lebih sering, duduk condong padanya, tersenyum lebih lebar dan lainnya.
Pada saat mengalami emosi, kadang seseorang hanya diam saja. Tapi, diam pun adalah tindakan yang mencerminkan keadaan emosional. Beberapa tindakan emosional lain misalnya saat takut meringkuk di bawah meja, saat sedih menangis, saat marah membanting gelas, saat kecewa menyalahkan orang lain, saat tersinggung memaki, dan lainnya. 



I.                   EKSPRESI WAJAH DARI EMOSI
Ekspresi wajah atau mimik adalah hasil dari satu atau lebih gerakan atau posisi otot pada wajah. Ekspresi wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal, dan dapat menyampaikan keadaan emosi dari seseorang kepada orang yang mengamatinya. Ekspresi wajah merupakan salah satu cara penting dalam menyampaikan pesan sosial dalam kehidupan manusia, namun juga terjadi pada mamalia lain dan beberapa spesies hewan lainnya.
Manusia dapat mengalami ekspresi wajah tertentu secara sengaja, tapi umumnya ekspresi wajah dialami secara tidak sengaja akibat perasaan atau emosi manusia tersebut. Biasanya amat sulit untuk menyembunyikan perasaan atau emosi tertentu dari wajah, walaupun banyak orang yang merasa amat ingin melakukannya. Misalnya, orang yang mencoba menyembunyikan perasaan bencinya terhadap seseorang, pada saat tertentu tanpa sengaja akan menunjukkan perasaannya tersebut di wajahnya, walaupun ia berusaha menunjukkan ekspresi netral. Hubungan perasaan dan ekspresi wajah juga dapat berjalan sebaliknya, pengamatan menunjukkan bahwa melakukan ekspresi wajah tertentu dengan sengaja (misalnya: tersenyum), dapat memengaruhi atau menyebabkan perasaan terkait benar-benar terjadi.
Sebagian ekspresi wajah dapat diketahui maksudnya dengan mudah, bahkan oleh anggota spesies yang berbeda, misalnya kemarahan dan kepuasan. Namun, beberapa ekspresi lainnya sulit diartikan, misalnya ketakutan dan kejijikan kadang sulit dibedakan. Selain itu, kadang-kadang suatu wajah dapat disalahartikan mengalami emosi tertentu, karena susunan otot-otot wajah orang tersebut secara alami menyerupai wajah seseorang yang mengalami ekspresi tertentu, misalnya wajah seseorang yang tampak selalu tersenyum.
Ekman (dalam Kulkarni, 2006) mendefinisikan enam kategori klasifikasi emosi yaitu senang, sedih, terkejut, marah, takut dan jijik. Kebanyakan sistem klasifikasi ekspresi wajah, mengklasifikasikan emosi ke dalam enam kategori universal tersebut. Selain itu, sistem klasifikasi harus dapat mengidentifikasi dan menunjukkan gabungan ekspresi dengan tepat. Sistem klasifikasi juga harus memiliki klasifikasi ekspresi yang dikuantifikasi untuk menyertakan intensitas dari ekspresi yang diklasifikasikan.

II.                EKSPRESI VOCAL DARI EMOSI
Biasanya nada suara vokal seseorang akan berubah mengiringi emosi yang dialami. Seseorang yang marah nada suaranya akan meninggi. Mereka yang bahagia akan lepas dan lancar. Sedangkan mereka yang sedih mungkin terbata-bata. Tidak jarang kita tahu emosi yang dialami seseorang hanya dari nada suaranya saja.
III.             EKSPRESI MUSIK DALAM EMOSI
Sejatinya musik adalah ritme bunyi yang harmonis. Musik merupakan alternatif sarana katarsis bagi seseorang. Di dalam musik terdapat melodi, dinamika , suara keras lembut, irama cepat lambat atau elemen-elemen lain. Memainkan alat musik merupakan alternative katarsis bagi seseorang. Dengan musik ia dapat mengatur irama sesuai dengan mood yang dimilikinya. Dengan bermain musik seseorang terlalih mengelola dan mengendalikan emosi secara ritmis.  Adapun yang terkandung dalam mendengarkan ritme  musik adalah kepekaan mengenali perasaan. Kadang-kadang musik dapat menggugah semangat, menggairahkan, menghilangkan ketegangan atau bahkan untuk sementara dapat memberikan suasana tentram . Musik memang merupakan alat bantu untuk mengekspresikan kata hati.
Menurut Alf Gabrielsson, seorang ahli di bidang psikologi music, untuk memahami ekspresi emosi dalam musik, kita perlu membedakan antara proses “emotion perception” dan “emotion induction”. Maksudnya,seorang pendengar musik dapat saja menangkap ekspresi emosi dari sebuah musik tanpa perlu mengalami emosi itu sendiri. Proses inilah yang dimaksud dengan emotion perception atau persepsi emosi yang terkandung dalam musik. Itu artinya ada nilai “objektif” dari fungsi emosional musik, yang membuat kita sebagai pendengar dapat mengenali musik yang bernuansa ’sedih’, ‘gembira’, ‘relaxing’ , dsb. Lebih jauh lagi, saat mendengar sebuah musik, kita dapat ‘mengalami’ emosi tertentu. Inilah proses emotion induction, di mana musik membawa kita hanyut dalam emosi tertentu. Seseorang, karenanya, dapat dengan bebas memberikan respon emosi terhadap musik yang didengarnya. Secara gamang, emotion perception dimaksudkan sebagai kerja intelektual (sebatas proses persepsi kognitif) sementara emotion induction melibatkan respon emosional (apa yang dirasakan saat mendengar musik tertentu).

Ekspresi emosi yang ditampilkan dalam musik dapat dinilai dari beberapa hal seperti :
·         Elemen tempo dari musik yang ditampilkan
·         Timbre
·         Serta kompleksitas musik yang disajikan
Misalnya, tempo cepat untuk musik yang riang dan tangga nada minor untuk menyampaikan kesedihan. Sampai di sini, para gitaris melakukan proses penilaian musik secara intelektual (persepsi emosi). Di lain pihak, gitaris akan memahami bahwa musik bisa juga mencuatkan sisi melankolis mereka (terinduksi emosi).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa musik yang ekspresif nilainya ada pada musik itu sendiri karenanya dapat dilakukan emotion perception) sekaligus pada si pendengar (terkait dengan emotion induction). Yang perlu diperhatikan lagi adalah adanya faktor ketiga: faktor situasional. Bagaimana musik itu dipresentasikan berpengaruh juga dalam urusan emosi ini. Misalnya, coba saja bandingkan sensasi emosional Anda saat mendengar sebuah musik sendu saat sebenarnya Anda sedang merasa senang dan saat Anda sedang meresa sedih, tentunya akan berbeda.

IV.             BAHASA DAN EMOSI
a) Pengertian Bahasa
Jalaluddin Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tatabahasa. Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti.
Menurut Irapurwitasai (2009), Bahasa dapat membantu kita untuk memiliki kemampuan memahami dan menggunakan symbol, khususnya symbol verbal dalam pemikiran dan berkomunikasi. Bahasa terbagi menjadi bahasa verbal dan non verbal. Kata ‘verbal’ sendiri berasal dari bahasa Latin, verbalis, verbum yang sering pula dimaksudkan dengan ‘berarti’ atau ‘bermakna melalui kata-kata’, atau yang berkaitan dengan ‘kata’ yang digunakan untuk menerangkan fakta, ide, atau tindakan yang lebih sering berbentuk percakapan lisan daripada tulisan. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa komunikasi verbal adalah bahasa – kata dengan aturan tata bahasa, baik secara lisan maupun secara tertulis. Dan hanya manusia yang dapat melambangkan keadaan dunia melalui bahasa. Tatabahasa meliputi tiga unsur: fonologi, sintaksis, dan semantik. Fonologi merupakan pengetahuan tentang bunyi-bunyi dalam bahasa. Sintaksis merupakan pengetahuan tentang cara pembentukan kalimat. Semantik merupakan pengetahuan tentang arti kata atau gabungan kata-kata. 
Menurut Larry L. Barker (dalam Deddy Mulyana,2005), bahasa mempunyai tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi. 
Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi. 
Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.  Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.
b)      Hubungan bahasa dengan emosi
Banyak orang mengatakan, bahasa adalah alat komunikasi. Tentu saja pernyataan ini tepat, karena dengan bahasa komunikasi antara manusia dapat terjalin. Namun, apakah fungsi bahasa hanya terbatas sebagai alat komunikasi?
Bahasa memiliki berbagai fungsi, antara lain sebagai alat ekspresi, integrasi, untuk tujuan praktis,artistik dan filosofis. Melalui bahasa, manusia dapat mengekspresikan apa yang tengah dirasakan atau dipikirkan. Pikiran dan perasaan tersebut direalisasikan dalam bentuk ragam bahasa verbal dan nonverbal. Contohnya, ketika seseorang sedang sedih atau senang akan mengekspresikannya dengan menulis buku harian, menulis puisi, lirik lagu, cerita ataupun karya tulis atau pun bentuk bahasa tulis lainnya. Sedangkan ekspresi bahasa non verbal, yaitu ketika manusia mengekspresikan emosinya dengan menangis, menari, melontarkan kalimat – kalimat amarah, dan lain – lain. Dengan membahasakan ekspresi tersebut manusia akan merasa tenang dan terbebas dari tekanan emosi yang dirasakannya.
Emosi bukan hanya pengalaman-pengalaman subjektif belaka, emosi mempunyai berbagai fungsi. Seperti kesiapan untuk aksi melalui pengerahan dan koordinasi dari bermacam-macam mekanisme fisiologis, membentuk perhatian dan persepsi, memfasilitasi memori, membentuk perilaku untuk tujuan yang langsung pada aktivitas, beradaptasi dengan perubahan tuntutan sosial, mempengaruhi perilaku yang lain,dan membantu pembuatan keputusan (Panskeep, 1998).
·         Bahasa yang Diucapkan
Bahasa yang diucapkan (speech) berarti bahasa yang secara spesifik dihasilkan melalui oral channel (mulut) dan dimengerti melalui auditory channel(telinga). Karakteristik umum: 
A.    broadcast transmission: pembicaraan dapat didengar oleh beberapa pendengar dalam jarak pendengaran 
B.     rapid fading : pembicaraan bersifat sementara, 
C.     specialization : pembicaraan hanya berfungsi sebagai komunikasi

·         Bahasa Isyarat
Bahasa isyarat tidak hanya dibentuk oleh aural/ oral channel tetapi juga beberapa channel seperti kedipan mata, gerakan tangan, wajah, dan torso. Dalam bahasa isyarat juga terdapat semua tingkatan grammar : fonologi, morfologi, dan sintaks.  Ekspresi Emosi Non-Bahasa Persajakan dalam Bahasa yang diucapkan Persajakan meliputi tekanan, intonasi, kekerasan, titinada, hubungan suara, dan kecepatan berbicara. Persajakan melebihi bentuk percakapan biasa karena berbeda dalam penekanan suara, kualitas, dan juga kualifikasi. 


Kesimpulan
Emosi adalah jiwa yang mempunyai kekuatan dan kedalaman sehingga dapat menggerakkan diri dengan semangat dan sumber energy. Bahasa dapat membantu kita untuk memiliki kemampuan memahami dan menggunakan symbol, khususnya symbol verbal dalam pemikiran dan berkomunikasi. Bahasa memiliki berbagai fungsi, antara lain sebagai alat ekspresi, integrasi, untuk tujuan praktis,artistik dan filosofis. Melalui bahasa, manusia dapat mengekspresikan apa yang tengah dirasakan atau dipikirkan. Pikiran dan perasaan tersebut direalisasikan dalam bentuk ragam bahasa verbal dan nonverval



DAFTAR PUSTAKA

Cole, L., 1963, Psychology of Adolance, New York : Hort, Rienhart and Winston inc.

Asmiyati, 2001, Hubungan antara Kematangan emosi dengan Perilaku Asertif Pada Mahasiswa Psikologi Untag Surabaya, Skripsi (Tidak Diterbitkan), Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Mappiare, A., 1982, Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Surabaya


Facebook comment